Jumat, 28 November 2014

News / Internasional

Tokoh Agama

Paus Fransiskus Akan ke Brasil

Kamis, 21 Maret 2013 | 00:08 WIB

VATIKAN, KOMPAS.com — Paus Fransiskus memastikan akan menghadiri fesitval kaum muda Katolik di Rio de Janeiro, Brasil, pada bulan Juli mendatang.

Presiden Brasil Dilma Rousseff menegaskan hal ini, Rabu (20/3/2013), setelah bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Paus Fransiskus yang bernama asli Kardinal Jorge Mario Bergoglio adalah Kardinal Buenor Aires, Argentina.

Kantor berita AFP melaporkan, Paus Fransiskus berharap akan banyak anak muda hadir pada festival kaum muda dunia yang akan berlangsung 23-28 Juli.

"Dia akan datang ke Brasil," ujar Dilma kepada wartawan Brasil setelah pertemuan selama 30 menit. Pihak penyelenggara memperkirakan akan ada dua juta anak muda hadir pada festival kaum muda Katolik di Brasil itu.

Ini kedua kalinya festival ini berlangsung di Amerika Latin setelah tahun 1987 berlangsung di Buenos Aires, Argentina. Paus juga berniat berziarah ke Basilica Our Lady Aparecida, tempat ziarah paling populer di Brasil yang terletak di tenggara negara bagian Sao Paulo. Dalam pembicaraan, Paus banyak menyinggung upaya mengatasi kemiskinan.

Sementara itu, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe meminta Paus Fransiskus agar berkunjung ke Afrika karena Paus adalah "utusan Tuhan yang akan berdoa bagi kita semua, berdoa bagi semua umat manusia yang berdosa".

Kantor berita AP melaporkan, Mugabe yang juga hadir pada misa dan pelantikan Paus Fransiskus pada hari Selasa lalu di Vatikan, sebenarnya sedang dalam larangan bepergian ke sejumlah besar negara Eropa karena catatan pelanggaran hak asasi dan kecurangan dalam pemilu presiden.

Vatican City tidak termasuk dalam larangan ini. Pihak Vatikan juga tidak mengeluarkan undangan resmi kepada siapapun, tetapi semua perwakilan dari berbagai negara di dunia termasuk Mugabe tetap disambut hangat saat pelantikan Paus.

Berbicara kepada wartawan di Italia, Mugabe menyerukan kepada gereja untuk meminta ajaran moral, menghindari mabuk-mabukan, dan menulis secara baik tidak seperti para wartawan yang menulis artikel untuk propaganda.

 


Penulis: Pieter P Gero
Editor : Tjahja Gunawan Diredja
Sumber: