Jumat, 18 April 2014

News / Internasional

Teroris Bermata Satu Al Qaeda Tewas?

Senin, 4 Maret 2013 | 14:34 WIB

Baca juga

Teroris bermata satu yang mendalangi serangan yang menyebabkan puluhan pekerja di ladang gas Aljazair tewas pada awal tahun ini telah dibunuh, demikian kabar yang beredar, Minggu (3/3/2013).

Mokhtar Belmokhtar, yang dijuluki "Mister Marlboro" karena mengumpulkan uang dengan menyelundupkan rokok dan narkotika di seantero Sahara, dikatakan tewas bersama 14 anak buahnya dalam sebuah serangan militer di sebuah gunung yang merupakan basisnya.

Tes DNA sedang direncanakan untuk memastikan apakah pengikut fanatik Al Qaeda itu benar-benar termasuk di antara mereka yang tewas. Tes itu juga untuk memastikan bahwa ia tidak berhasil kabur dalam baku tembak di Mali utara itu.

Belmokhtar, yang dikenal sebagai "Yang Tak Tersentuh", menjadi salah satu orang yang paling dicari di dunia setelah mengotaki serangan di ladang gas In Amenas di Aljazair, Januari lalu. Sedikitnya 60 orang tewas dalam serangan itu.

Sejak serangan itu, Perancis telah melipatgandakan upaya militernya untuk menumpas para gerilyawan yang menguasai Mali utara.

Hari Sabtu, pasukan Chad, yang membantu Perancis, menyerbu perkemahan di gua pegunungan Adrar des Ifoghas. Minggu kemarin, Chadian TV mengumumkan bahwa Belmokhtar diyakini berada di antara 40-an orang yang tewas dalam serangan itu.

Sebuah sumber militer Perancis mengatakan, "Orang Chad yakin bahwa mereka telah membunuh Belmokhtar, tetapi tidak ada verifikasi yang mutlak."

Juru bicara pasukan Chad, Jenderal Zacharia Gobongue, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di televisi nasional, "Angkatan bersenjata Chad yang beroperasi di Mali utara menghancurkan basis teroris. Yang tewas termasuk teroris, termasuk pemimpin mereka Mokhtar Belmokhtar."

Pasukan Chad yang memerangi militan Mali merupakan bagian dari pasukan internasional yang dipimpin Perancis.

Kematian Belmokhtar akan menjadi pukulan besar bagi gerilyawan di Mali utara yang telah terdesak oleh pasukan Perancis dan Afrika ke wilayah basis mereka di gunung-gunung.

Pemimpin teroris itu merupakan tokoh berpengaruh bagi pemberontak dan dikatakan telah mendalangi serangan di ladang gas di Aljazair yang menyebabkan krisis sandera pada Januari lalu. Sebanyak 37 pekerja asing tewas di fasilitas ladang gas terpencil di bagian yang dioperasikan BP, yang dikuasai teroris bersenjata berat, pada 16 Januari. Sebanyak 29 penyandera tewas, sedangkan tiga orang ditangkap tentara Aljazair dalam misi pasukan khusus untuk mengakhiri pengepungan empat hari itu.

Belmokhtar sudah dua kali dijatuhi hukuman mati tanpa kehadirannya di negara asalnya, Aljazair, yaitu pada 2008 untuk kasus pembunuhan dan tahun 2012 untuk aksi terorisme.

Belmokhtar diyakini pertama kali tertarik pada kaum jihad saat masih menjadi siswa sekolah, sebelum bepergian ke Afganistan untuk mendukung pertempuran mujahidin dalam Perang Saudara di negara itu. Ia kemudian bergabung dengan kaum Islam GIA pada Perang Sipil Aljazair di mana ia kehilangan mata kirinya karena kesalahan penanganan bahan peledak. Reputasinya sebagai seorang "gangster" yang terlibat dalam penyelundupan senjata dan rokok membuatnya mendapat julukan "Mister Marlboro" di kalangan penduduk setempat di Sahara.

Belmokhtar kemudian menjadi seorang komandan Al Qaeda yang berbasis di Mali di Maghreb Islam (AQIM) sebelum ia memimpin organisasinya sendiri, yang dijuluki Al-Mulathameen atau Brigade Bertopeng. Kelompok itulah yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di ladang gas Aljazair.

Dalam pesan video yang difilmkan pada puncak krisis itu, Belmoktar mengatakan, "Kami di Al Qaeda mengumumkan operasi ini. Kami siap untuk bernegosiasi dengan Barat dan Pemerintah Aljazair asalkan mereka menghentikan pengeboman mereka terhadap warga Muslim Mali."

Bentrokan terbaru yang menewaskan Belmokhtar itu terjadi hanya satu hari setelah muncul laporan bahwa seorang anggota senior Al Qaeda tewas di Mali Utara. Abdelhamid Abou Zeid, seorang komandan senior Al Qaeda di Maghreb Islam, tewas bersama 40 orang lainnya lima hari lalu di kaki pengunungan Adrar Ifoghas.

Hari Jumat, Presiden Chad Idriss Deby mengatakan, pasukannya "membunuh dua pemimpin jihad, termasuk Abou Zeid", tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Warga Aljazair, Abdelhamid Abou Zeid, yang nama aslinya adalah Mohamed Ghadir, merupakan salah satu dari tiga komandan di AQIM.

Pasukan Perancis dan Chad telah memburu para militan AQIM di pegunungan di perbatasan Aljazair setelah sebuah serangan kilat untuk mengusir mereka dari Mali utara.

Kantor kepresidenan Perancis menolak untuk mengomentari kematian pemimpin AQIM. Namun, seorang pejabat militer Perancis mengonfirmasi bahwa sekitar 40 pemberontak telah tewas dalam pertempuran sengit selama seminggu terakhir di wilayah pegunungan Tigargara. Pejabat itu mengatakan, 1.200 tentara Perancis, 800 tentara Chad, dan beberapa elemen tentara Mali masih bertempur di selatan Tessalit di pegunungan Adrar. Ia mengatakan, 10 situs logistik dan pabrik bahan peledak serta 16 kendaraan telah dihancurkan dalam operasi itu.

Perancis melancarkan serangan untuk merebut kembali gurun luas di Mali utara dari AQIM dan pemberontak-pemberontak lainnya setelah permohonan dari Pemerintah Mali untuk menghentikan laju kaum militan ke selatan. Intervensi itu dengan cepat membuat para pemberontak di kota-kota utama di Mali utara terusir. Mereka kembali ke padang gurun dan pegunungan di sekitarnya, terutama Adrar des Ifoghas.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: