Rabu, 30 Juli 2014

News / Internasional

Jet Tempur Israel Serang Konvoi Suriah

Kamis, 31 Januari 2013 | 07:55 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Jet-jet tempur Israel menyerang konvoi yang diduga kendaraan militer Suriah di sepanjang perbatasan Lebanon-Suriah yang diyakini tengah memindahkan senjata ke Hizbullah di Lebanon, kata seorang pejabat senior Amerika Serikat, Rabu (30/1/2013).

Menurut sumber lain yang dikutip CNN, pesawat-pesawat tempur Israel menyerang konvoi kendaraan itu karena membawa bagian-bagian misil SA-17, rudal jarak menengah buatan Rusia, serta peralatan yang bisa digunakan untuk menyerang Israel.

Namun Damaskus mengatakan, serangan itu justru mengenai sebuah fasilitas riset dekat ibukota Suriah. "Pesawat-pesawat perang Israel menembus wilayah udara kami pada pagi tadi dan mengebom satu dari pusat riset yang bertugas meningkatkan tingkat ketahanan dan pertahanan diri di kawasan Jimraya di pinggiran Damaskus," kata militer Suriah yang disiarkan televisi pemerintah.

"Serangan ini terjadi setelah sejumlah upaya yang gagal oleh kelompok-kelompok teroris untuk memasuki dan menguasai tempat tersebut," demikian pernyataan militer Suriah.

Di lain pihak, seorang mantan pejabat tinggi intelijen Israel mengatakan, Hizbullah tampaknya ingin menguasai semua senjata untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu Presiden Suriah Bashar al-Assad terpaksa melarikan diri. Jika sewaktu-waktu memutuskan kabur, Assad kemungikan memilih mempersenjatai kelompok Hizbullah sebelumnya sehingga kelompok militan itu bisa menyerang Israel, lanjut pejabat tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Suriah memindahkan rudal-rudal Scud ke Hizbullah. Kepala rudal Scud bisa dipasangi senjata kimia.

Namun pejabat senior AS itu mengatakan, pihaknya tidak yakin serangan udara itu terkait dengan meningkatnya kekhawatiran soal senjata kimia Suriah. "Kami tidak melihat ada hubungan," kata pejabat itu, Rabu. Serangan itu diperkirakan telah mengenai sebuah "target yang telah ditentukan," katanya.

"Apakah itu serangan terhadap konvoi pasokan atau seorang pemimpin teroris, itu tidak terlalu mengejutkan," kata peneliti senior Brookings, Michael O'Hanlon. "Sekilas, itu kemungkinan tidak akan dilihat bereskalasi besar. Meskipun masih ada kemungkinan pembalasan."

Israel militer dan pejabat pemerintah negara itu menolak untuk berkomentar tentang serangan tersebut.

Aksi itu terjadi hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, menjadi berita utama ketika ia mengatakan cengkeraman Al-Assad pada kekuasaan "kian melemah." Rusia, yang dianggap sebagai penyokong rezim Al-Assad dalam konflik yang telah berjalan hampir 2 tahun itu, telah mengecam negara-negara Barat, termasuk AS, yang telah mengakui oposisi sebagai pemerintahan yang sah di Suriah.

Ada kekhawatiran terkait keamanan gudang senjata kimia Suriah, serta keamanan senjata konvensionalnya yang berjumlah besar.

Bulan lalu, NATO mengatakan pemerintah Suriah "tengah mendekati keruntuhan" dan mendesak Al-Assad menghentikan pertempuran serta mengakomodasi transfer kekuasaan politik.

 


Penulis: Egidius Patnistik
Editor : Egidius Patnistik
Sumber: