Minggu, 21 September 2014

News / Internasional

Akui Bunuh Taliban, Pangeran Harry Terancam

Rabu, 23 Januari 2013 | 12:13 WIB

LONDON, KOMPAS.com Polisi Inggris mungkin harus meningkatkan keamanan bagi Pangeran Harry setelah pengakuan terus terangnya bahwa ia telah membunuh sejumlah militan Taliban di Afganistan. Para petinggi Scotland Yard tengah meninjau perlindungan mereka bagi pilot helikopter tempur Apache berusia 28 tahun itu yang telah mengatakan bahwa para tentara terkadang harus "menghilangkan nyawa demi menyelamatkan nyawa."

Selasa (22/1/2013) malam sejumlah mantan perwira menyatakan terkejut atas komentar Harry. Dai Davies, mantan Kepala Skuad Perlindungan Kerajaan Metropolitan London, mengatakan, "Murni dari sudut pandang perlindungan, saya pikir sangat tidak direkomendasikan bagi Pangeran Harry untuk membuat dirinya jadi menarik perhatian. Mungkin pada kenyataan dia memang membunuh pemberontak, tapi mengatakan hal itu secara terbuka hanya meningkatkan kemungkinan adanya orang gila yang mencoba untuk membalas dendam terhadapnya. Itu seharusnya tidak terjadi pada pemuda itu karena dia bertanggung jawab bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga orang-orang yang menjaganya. Jika Anda melihat para bangsawan senior lainnya, mereka tidak pernah membahas soal penempatan mereka (di militer). Pangeran Andrew tidak pernah melakukannya. Ayahnya tidak pernah. Para pamannya juga tidak pernah. Tak satu pun dari mereka pernah membahas apakah mereka melakukan pembunuhan atau tidak saat mereka di militer."

Davis menambahkan, "Kalau saja saya masih memimpin (Skuad) Perlindungan Kerajaan, saya pasti sekarang akan meninjau dan meningkatkan keamanan Pangeran Harry."

Seorang mantan perwira senior lain, Glen Smyth, yang merupakan mantan Ketua Federasi Polisi Metropolitan London, mengatakan, "Saya pikir akan lebih baik bagi Pangeran Harry kalau hanya berkata bahwa dia telah dilibatkan dalam sebuah operasi. Apa yang telah dia katakan tidak diragukan lagi akan meningkat nilainya sebagai target teroris."

Scotland Yard menolak untuk membahas peninjauan perlindungan bagi Harry. Lembaga itu mengatakan, "Kami tidak siap untuk membahas masalah-masalah keamanan."

Dalam sebuah wawancara untuk menandai akhir masa tugas empat bulannya di Afganistan pada Senin malam lalu, Harry mengaku bahwa dia membunuh satu atau lebih anggota Taliban di Afganistan saat dia bertugas sebagai pilot helikopter tempur Apache. "Ya, ada begitu banyak orang. Skuadron berada di luar sana. Setiap orang menembak sejumlah tertentu," kata Harry saat ditanya apakah dia menembak musuh dari kokpit Apache.

Kolonel Richard Kemp, mantan komandan Inggris di Afganistan, mendukung sang pangeran dengan mengatakan, "Jika dia membual tentang pembunuhan, itu pasti suatu kesalahan, tapi dia tidak membual tentang hal itu." Kemp menyatakan, Harry terlalu "terus terang" dalam membahas perannya selama pertempuran.

Sementara para pengamat memperingatkan, ia telah membuat dirinya menjadi "target utama".

Harry juga menyatakan bahwa dirinya dapat menerbangkan helikopter lebih baik karena pengalamannya di game komputer. "Ini sebuah kegembiraan bagi saya karena saya salah satu dari orang-orang yang mencintai permainan PlayStation dan Xbox."

Pengakuan jujur Harry bahwa ia telah membunuh pemberontak memicu reaksi keras para aktivis anti-perang, beberapa bekas tentara dan Taliban sendiri.

Harry terbang keluar dari Afganistan, Senin malam. Ia meninggalkan sekitar 9.500 pasukan Inggris yang masih berperang dalam konflik yang telah berlangsung 11 tahun di Afganistan. Perang itu dimulai untuk mengusir Taliban sebagai bagian dari perang global melawan terorisme dan kini telah menyebabkan 440 prajurit Inggris tewas dan ribuan lainnya cedera.

Dalam wawancara itu, Harry mengakui telah membunuh para pejuang Taliban, serta menyoroti kesamaan antara game komputer dan terbang dalam misi helikopter Apache.

Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, menggambarkan Harry sebagai "pengecut". Mujahid mengatakan, "Ada 49 negara dengan militer mereka yang kuat gagal dalam perang melawan para mujahidin. Dan sekarang pangeran itu datang dan membandingkan perang ini dengan permainannya, PlayStation, atau apa pun ia menamainya. Ini sebuah perang serius, perang bersejarah, perlawanan bagi kami, bagi rakyat kami. Namun, kami tidak menganggap serius komentarnya karena sebagaimana kita semua lihat dan dengar bahwa para tentara asing, penjajah yang datang ke Afganistan, mengalami beberapa jenis masalah mental dalam perjalanan pulangnya."

Dia menambahkan, "Kami selalu ingin menangkap atau membunuh pangeran itu, tapi ia sebagian besar berada di dalam, aman, dan di tempat-tempat bawah tanah yang dijaga."

Seorang komandan senior Inggris di Helmand, sebagaimana dikutip pada Rabu pagi, mengatakan, komentar Harry menunjukkan kurangnya rasa hormat bagi mereka yang mempertaruhkan nyawanya di Afganistan. "Ini bukan permainan," katanya. "Ini sangat, sangat nyata."

Mantan perwira Charles Heyman menyatakan, kata-kata sang pangeran mungkin telah menempatkan dirinya pada risiko serangan balasan. "Keluarga kerajaan semua jadi target, dan dia sekarang mungkin menjadi target utama," katanya. "Tapi, dia bisa hidup dengan itu. Dia seorang tentara, dia tahu apa yang dia lakukan."


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: