Sabtu, 19 April 2014

News / Internasional

Sang Jenderal Pun Bertekuk Lutut...

Minggu, 18 November 2012 | 08:26 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Skandal seks yang melibatkan mantan Direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA) David Petraeus menyita perhatian dunia sepanjang pekan lalu. Bahkan di AS, skandal itu lebih menyita perhatian dibandingkan masalah ”jurang fiskal” yang berisiko menjatuhkan negara itu dan dunia ke jurang resesi ekonomi.

Petraeus, purnawirawan jenderal bintang empat yang memiliki jejak karier cemerlang dalam perang di Irak dan Afganistan, menambah panjang daftar tokoh di AS yang menjadi korban skandal perselingkuhan.

Namun, skandal Petraeus menjadi berbeda karena latar belakang lembaga, zaman, dan seperti disebut oleh Agence France Presse (AFP), plotnya yang bahkan lebih dramatis dibandingkan film-film roman buatan Hollywood.

Berawal dari sebuah surat elektronik (surel) yang dikirimkan Mei lalu oleh seseorang dengan nama samaran ”Kelley Patrol” kepada Jenderal John Allen, komandan pasukan AS di Afganistan.

Surel itu menyarankan Allen untuk menjauh dari Jill Kelley (37), seorang sosialita warga Tampa, Florida, yang dikenal Allen beberapa tahun sebelumnya. Allen tak menggubris surel itu karena ia anggap ”lelucon”.

Lalu pada Juni dan Juli, Kelley juga menerima surel dari akun yang sama. Isi surel itu mempertanyakan apa urusan ibu tiga anak itu berdekat-dekat dengan Petraeus dan Allen, dan apakah suami Kelley tahu perilakunya itu.

Merasa terganggu dengan surel-surel itu, Kelley mengontak temannya, Frederick Humphries II, seorang agen penyelidik Biro Investigasi Federal AS (FBI).

Atas permintaan Humphries, para pakar kejahatan siber FBI mulai melacak surel-surel tersebut, yang berujung pada akun Gmail milik Paula Broadwell (40), seorang ibu dua anak. Broadwell adalah salah satu penulis buku biografi Petraeus.

Pemantauan terhadap akun surel itu kemudian mengungkap komunikasi antara Petraeus dan Broadwell yang mengindikasikan hubungan asmara di antara mereka.

Mereka berkomunikasi dengan satu akun surel, dengan cara menulis pesan kemudian tidak mengirimnya. Pesan yang sudah ditulis itu disimpan di berkas rancangan surat (draf), yang kemudian akan dibaca si penerima pesan yang mengetahui kata sandi akun surel itu.

Para penyelidik FBI juga menemukan dokumen-dokumen rahasia di akun surel Broadwell, yang memicu kekhawatiran telah terjadi kebocoran rahasia negara. Namun, empat bulan kemudian, FBI menyimpulkan tak terjadi kebocoran rahasia maupun tindakan kriminal berbahaya, dan berniat menutup kasus itu.

Namun, Humphries berpikir, langkah FBI itu bermotif politik menjelang pemilihan presiden AS. Itu sebabnya, ia pergi menemui temannya, David Reichert, anggota DPR AS dari Partai Republik.

Reichert kemudian membawa informasi itu kepada Eric Cantor, pemimpin mayoritas DPR AS yang dikenal sebagai salah satu pengkritik utama Presiden Barack Obama.

Cantor kemudian menelepon Direktur FBI Robert Mueller pada 31 Oktober, menanyakan tentang kebenaran skandal itu.

Mengetahui rahasia perselingkuhannya tak lagi bisa dipendam terlalu lama, Petraeus pun mengajukan pengunduran diri kepada Obama, dua hari setelah Obama memenangi pilpres.

Sang jenderal pun telah bertekuk lutut.... (AFP/AP/CNN/DHF)

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Skandal Direktur CIA


Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Sumber: