Tugas Xi Jinping Sangat Berat - Kompas.com

Tugas Xi Jinping Sangat Berat

Kompas.com - 17/11/2012, 02:24 WIB

Beijing, Jumat - Pemimpin baru China Xi Jinping menghadapi tugas berat. China kini dihadapkan pada penurunan pertumbuhan ekonomi. Rakyat juga sudah sangat jengkel dengan wabah korupsi dan muncul tuntutan reformasi hingga ke bidang politik. Tugas Xi sungguh tidak ringan.

Xi, yang sekaligus menjadi pemimpin tertinggi militer, mendapatkan dukungan kuat dari jajaran militer. Namun, dia berkuasa di era dengan segudang masalah.

Ke depan, laju pertumbuhan ekonomi China bisa tidak lagi secerah masa lalu. Di samping itu, ada banyak kesenjangan yang membuat warga mulai kehilangan respek pada otoritas.

Ada kesenjangan pendapatan, kesenjangan pembangunan wilayah, dan kesenjangan sosial. Para pekerja migran, misalnya, menganggap diri mereka sebagai warga kelas dua.

Para pengusaha sudah mulai mengeluh tentang iklim investasi yang semakin memberatkan, seperti keharusan memperbaiki upah buruh dan memperbaiki kontrak kerja.

Setelah tiga dekade pertumbuhan ekonomi yang tinggi, warga China memang merasakan kenaikan status sosial ekonomi. Akan tetapi, warga juga menuntut pemerintahan yang lebih baik, dan pada tingkat tertentu juga menuntut demokrasi.

Pemerintah tampak tak siap dengan segala keluhan itu. Pola tangan besi terus terlihat. Polisi terus menangkapi aktivis dan meredam aksi-aksi protes.

Sejumlah wilayah juga mengeluh tentang demokrasi dan kebebasan, seperti yang dilakukan warga Tibet.

Xi Jinping menyadari tugas berat itu. ”Tanggung jawab kita sekarang adalah memimpin serta mengarahkan partai dan semua warga dari beberapa etnis,” katanya.

Xi menjanjikan pelayanan sosial yang lebih baik sembari memastikan bahwa akar kemiskinan akan dikikis. Xi tak menyebut lebih jauh bagaimana dia mengatasi sejumlah akar masalah itu. Ia hanya menjanjikan akan mengarahkan China ke sebuah negara yang terbarui.

Dasar kepemimpinan

Komposisi kepemimpinan yang mendampingi Xi juga memperlihatkan tugas berat. Dia didampingi Li Keqiang, yang pada Maret 2013 akan menjabat perdana menteri. Wang Qishan akan tampil sebagai ketua badan antikorupsi. Para elite pemimpin China ini merefleksikan figur kuat dan tegas serta serius.

Namun, bagaimana komposisi kepemimpinan itu mengarahkan China ke depan amat tidak jelas. ”Kita sebenarnya berharap lebih, tak sekadar kesan bahwa ada pemimpin generasi baru,” kata Dali Yang dari Universitas Chicago, AS.

Dasar kepemimpinan China yang ada sekarang ini adalah sekadar melanjutkan aturan partai. ”China tak tertarik dengan pengenalan model Gorbachev,” kata Yang.

Ucapannya merujuk kepada Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet, yang mengubah sistem komunis menuju demokrasi walau dengan risiko ambruknya Uni Soviet.

”Di sisi lain, semakin banyak warga yang mulai sadar akan hak-hak mereka dan konstan menuntut reformasi politik,” kata Hu Jia, aktivis China.

”Partai Komunis tak memiliki legitimasi. Partai ini adalah partai diktator yang selalu menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan. Kita butuh negara dengan rakyat yang leluasa memilih pemimpinnya,” ujarnya.

(AP/AFP/REUTERS/MON)

Editor

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM