Jumat, 19 Desember 2014

News / Internasional

PBB: Ladang Opium di Myanmar Meningkat

Rabu, 31 Oktober 2012 | 15:20 WIB

YANGON, KOMPAS.com — Sebuah tim Peserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut meningkatnya perluasan ladang opium di Myanmar sepanjang enam tahun terakhir.

Menurut laporan kantor PBB untuk urusan obat bius dan tindak kriminal, lahan yang dipakai sebagai tempat budidaya opium naik 17 persen tahun ini, dari hampir 40.000 hektar menjadi 51.000 hektar.

Setelah Afganistan, Myanmar adalah negara penghasil opium terbesar kedua di dunia.

Hampir semua opium yang diproduksinya ditanam di negara bagian Shan dan Kachin, yang sejak lama menjadi titik konflik antara militer Myanmar dan kelompok pemberontak.

Upaya memberantas ladang-ladang haram ini dianggap setengah hati, di mana militer Myanmar dan kelompok pemberontak bersenjata dianggap sebagai pihak yang paling banyak mengantongi keuntungan dari perdagangan obat bius di sana, tulis wartawan BBC di Bangkok, Jonah Fisher.

Sementara itu, kelompok petani mengatakan, akibat ketidakstabilan situasi, mereka terpaksa menanam tumbuhan poppy yang menjadi sumber opium yang kelak diproses menjadi heroin, yang di Indonesia dikenal sebagai zat adiktif bernama putaw.

Myanmar merupakan penghasil dari 25 persen opium yang ada di dunia, sementara Laos memasok 3 persen pangsa yang sama, kata Survey Opium Asia Tenggara 2012.

Situasi ini berbalikan dengan kondisi antara 1998 hingga 2006, saat baik produksi opium Myanmar maupun Laos turun deras, merosot 83 persen di Myanmar.

Wilayah Segitiga Emas, persinggungan antara Myanmar, Thailand, dan Laos, sudah lama dikenal sebagai wilayah hitam ladang dan titik penyelundupan opium serta obat bius.

Sebagian besar opium di Myanmar akan diproses menjadi heroin, sekitar separuhnya akan dipasarkan ke China, sedangkan sisanya dibawa ke penjuru Asia Tenggara.

Salah satu alasan kenapa produksi opium sangat tinggi di wilayah ini dan budidaya poppy terus bertahan, menurut laporan PBB, adalah karena tingginya permintaan heroin di kawasan Asia.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: