Selasa, 21 Oktober 2014

News / Internasional

Debat Capres AS Berlangsung "Panas"

Rabu, 17 Oktober 2012 | 10:55 WIB

Terkait

NEW YORK, KOMPAS.com — Debat kedua antara Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat dan penantangnya Mitt Romney dari Partai Republik berlangsung "panas" begitu dimulai, Selasa (16/10/2012) malam waktu setempat.

Dalam debat selama 90 menit itu, Obama berusaha keras mempertahankan kebijakan dan sejumlah rencanya dan menantang Romney yang dikatakan akan lebih mengutamakan kaum kaya jika terpilih. Romney berulang kali menyerang Obama dengan mengatakan bahwa jutaan orang yang menganggur dan pemulihan ekonomi yang lamban menunjukkan kebijakan Obama telah gagal.

Kedua kandidat berdebat tentang beragam isu, mulai dari soal bail out atas industri otomotif, masalah tenaga kerja, kebijakan energi, pajak, pendidikan, imigrasi, hingga peran perempuan.

Tidak seperti debat-debat lainnya, format debat kali ini bergaya pertemuan balai kota. Para penonton mengajukan pertanyaan dan Kepala Koresponden Politik CNN Candy Crowley bertindak sebagai moderator.

Kali ini Obama tampil lebih hidup dan menarik ketimbang penampilannya pertamanya sekitar dua minggu lalu yang pasif dan karena itu banyak di sorot. Obama dan Romney, yang juga agresif dalam mengemukakan pandangannya, berdiri berhadap-hadapan, saling menginterupsi, berjalan-jalan di panggung di Universitas Hofstra, memegang mikrofon, menaikkan volume suara, dan membatah poin-poin yang diajukan lawan.

"Gubernur Romney mengatakan, dia punya lima rencana. Gubernur Romney tidak punya lima rencana. Ia hanya punya satu rencana. Dan rencana itu adalah memastikan bahwa kalangan atas bermain dengan seperangkat peraturan yang berbeda," kata Obama tentang pendekatan Romney untuk memperbaiki kondisi perekonomian.

Romney menyerang balik dengan mengatakan bahwa Obama "seorang pembicara yang hebat, tetapi kebijakannya tidak berjalan". Romney mengatakan bahwa ia akan memprioritaskan pertumbuhan kelas menengah. "Ini tentang bagaimana kita bisa membuat kelas menengah negeri ini punya masa depan yang cerah dan sejahtera."

Dalam sebuah kesempatan, ketika berdebat seru tentang energi, Romney bahkan sempat membuat penoton terkejut ketika ia membentak Obama dengan mengatakan, "Kamu akan segera mendapatkan giliranmu, saya lagi bicara."

"Tidak benar, Gubernur Romney, tidak benar," kata Obama, setelah Romney menyerang kebijakan Obama soal produksi minyaknya selama empat tahun terakhir.

Pertanyaan pertama dalam debat itu datang dari seorang mahasiswa 20 tahun yang khawatir apakah dia akan mampu menopang dirinya setelah lulus kuliah. "Utang lebih banyak dan lapangan pekerjaan kurang. Saya akan mengubah itu. Saya tahu apa yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja yang baik lagi," kata Romney kepada pemilih pemula itu. "Ketika Anda selesai (kuliah) tahun 2014, saya kira saya akan jadi presiden saat itu, saya akan memastikan Anda mendapatkan pekerjaan."

Obama butuh penampilan yang meyakinkan dalam debat kali ini demi menghentikan kenaikan posisi Romney dalam jajak pendapat sejak perdebatan pertama mereka di Denver. Setelah debat di Denver itu, para analis dan sejumlah jajak pendapat menunjukkan Romney meraih kemenangan nyata.

Tim kampanye Obama mengakui, Obama mengalami malam yang buruk dalam perdebatan pertama dan menjanjikan pendekatan yang lebih agresif di New York. Debat ketiga dan terakhir yang akan berfokus pada kebijakan luar negeri akan berlangsung pada 22 Oktober di Florida. Namun, jajak pendapat menunjukkan, para pemilih menganggap masalah ekonomi menjadi isu pemilu yang paling penting.

Angka pengangguran di AS turun di bawah 8 persen September. Itu untuk pertama kalinya sejak Obama mulai berkuasa pada 2009. Namun, jutaan orang tetap tidak mendapat pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi AS mengalami kelesuan.

Romney dan tim kampanyenya berusaha membingkai pemilihan presiden mendatang sebagai referendum terhadap kepresidenan Obama. Mereka mengutip angka pengangguran, pemulihan dari resesi yang lamban, dan defisit kronis angaran federal serta utang sebagai alasan untuk menolak masa jabatan kedua bagi Obama.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: