Minggu, 19 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 19 Mei 2013 | 22:35 WIB
Presiden Mesir: AS Harus Hargai Nilai-nilai Arab
Senin, 24 September 2012 | 13:04 WIB
Dibaca:
|
Share:
Presiden Mesir: AS Harus Hargai Nilai-nilai Arab AP Presiden Mesir, Mohammed Mursi

KAIRO, KOMPAS.com - Sebelum memulai kunjungan perdananya ke Amerika Serikat sejak menjadi presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas, Mohammed Mursi mengatakan, AS perlu mengubah pendekatannya terhadap dunia Arab dan menghargai nilai-nilai mereka.

Dalam sebuah wawancara dengan harian New York Times akhir pekan lalu, presiden dari kubu Islamis itu mengatakan bahwa di masa lalu Washington merasakan sakit hati di Timur Tengah karena mendukung para diktator. Namun kini, ia membayangkan kedua pihak menjadi 'teman sejati'. Dan Mursi, yang menuju New York pada Senin (24/9) pagi ini untuk menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB, menekankan bahwa Washington harus bertindak sesuai komitmennya dalam perjanjian Camp David, yaitu mendukung pemerintahan sendiri Palestina.

Dia berargumen, rakyat Amerika punya "tanggung jawab khusus' terhadap rakyat Palestina berdasarkan kesepakatan Camp David. Kesepakatan itu ditandatangani AS tahun 1978. Kesepakatan tersebut menyerukan penarikan pasukan Israel dari Tepi Barat dan Gaza demi membuka jalan bagi pemerintah sendiri secara penuh bagi Palestina
 
Dalam wawancara itu ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya tidak menilai Mesir dengan standar AS. Hal itu terkait dengan reaksi kebencian di negara Muslim itu terhadap sebuah film anti-Islam yang diproduksi di Amerika Serikat. Dia membela diri terhadap tuduhan Gedung Putih bahwa ia tidak cukup cepat mengecam para demonstran setelah mereka memanjat dinding Kedubes AS dan membakar bendera Amerika dalam protes terhadap film itu, yang mengolok-olok Nabi Muhammad.

"Kita tidak pernah bisa memaafkan kekerasan semacam ini, tetapi kita perlu menghadapai situasi itu dengan bijaksana," katanya kepada New York Times.

Presiden berusia 61 tahun itu, yang merupakan seorang mantan pemimpin Ikhwanul Muslimin, mengatakan dia mengharapkan hubungan "penuh damai, hidup berdampingan secara harmonis"  antara Arab dan Amerika.

Mursi mengingat hari-harinya sebagai seorang mahasiswa di University of Southern California pada awal tahun 1980-an dalam wawancara itu. Namun itu prihatin dengan kemerosotan moral seksual di Barat, seperti hidup bersama di luar nikah. Ia juga terganggu dengan apa yang dia sebut 'restoran telanjang', seperti yang terjadi di jaringan restoran Hooters yang menampilkan para pelayan yang kelewat seksi dan atraktif.

Mursi semula berusaha untuk melakukan pertemuan dengan Barack Obama dalam kunjungannya itu tetapi kemudian membatalkan permintaan setelah menerima sambutan yang dingin.

Wawancara dengan New York Times itu merupakan wawancara pertamanya dengan media AS sejak terpilih sebagai presiden pasca-penggulingan sekutu kunci dan strategis AS, Hosni Mubarak, pada 2011.

Editor :
Egidius Patnistik
Minggu, 19/05/2013 15:10 WIB

Jaringan Internet di Iran 'Koma'

Minggu, 19/05/2013 11:54 WIB

GPS Membantu Peringatan Dini Tsunami