Minggu, 21 September 2014

News / Internasional

Keluarga Al-Assad Mulai Retak

Sabtu, 22 September 2012 | 08:34 WIB

Keluarga Al-Assad yang berkuasa di Suriah sejak tahun 1969 diberitakan mulai retak. Presiden Bashar al-Assad dan kakak perempuannya, Bushra al-Assad, diberitakan oleh situs televisi Alarabiya terlibat konflik semenjak tewasnya Wakil Menteri Pertahanan Assef Shawqat dalam sebuah ledakan bom di kantor Biro Keamanan Nasional, Damaskus, Juli lalu. Adapun Shawqat adalah suami dari Bushra.

Selain Shawqat, dalam ledakan di kantor Biro Keamanan Nasional itu, tewas pula Menteri Pertahanan Dawood Rajha, Menteri Dalam Negeri Muhammad Ibrahim al-Shaar, dan mantan Menteri Pertahanan Hassan Turkmani.

Sejak tewasnya Shawqat, Bushra dan anak-anaknya dirundung kesedihan luar biasa. Beberapa media di Lebanon sempat memberitakan Bushra telah membelot terhadap pemerintahan adiknya. Namun, tidak dijelaskan keberadaan Bushra dan anak-anaknya saat ini, apakah masih di Suriah atau hengkang ke luar negeri.

Bushra adalah satu-satunya putri dari lima bersaudara pasangan mendiang Presiden Hafez Assad dan Anisa Makhluf. Dia cenderung menyalahkan Bashar atas ledakan di kantor Biro Keamanan Nasional yang merenggut nyawa suaminya itu. Bushra menuduh Bashar tidak serius menyelidiki terjadinya ledakan di kantor Biro Keamanan Nasional itu.

Bahkan, disinyalir ledakan di kantor Biro Keamanan Nasional itu diatur oleh oknum di lingkaran kepresidenan, menyusul terjadinya konflik di kalangan elite mengenai cara menangani krisis di negara itu yang kini berkembang menjadi perang saudara. Bashar dan Bushra terakhir ini juga sering terlibat perbedaan pendapat soal cara menghadapi krisis di negara mereka.

Di kalangan elite rezim Bashar al-Assad saat ini dikenal ada dua kubu dalam menghadapi krisis di negara itu. Pertama, kubu garis keras yang memilih menggunakan kekuatan militer dalam menghadapi aksi unjuk rasa rakyat yang menuntut lengsernya rezim keluarga Assad. Dalam kubu ini terdapat Presiden Bashar al-Assad; Komandan Pasukan Elite divisi IV Jenderal Maher al-Assad, yang juga adik bungsu Bashar; dan Ketua Intelijen Ali Mamluk.

Kedua, kubu moderat yang menghendaki agar penanganan solusi krisis Suriah meniru model solusi Yaman seperti yang diminta Liga Arab. Model solusi Yaman adalah presiden menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden dengan imbalan perlindungan hukum atas presiden yang legowo lengser. Dalam kubu moderat di antaranya terdapat Wakil Presiden Farouk Shara dan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Baath yang berkuasa di Suriah, Abdullah Al Ahmar.

Kebijakan kubu garis keras yang dipimpin Bashar al-Assad adalah kebijakan yang diadopsi Pemerintah Suriah saat ini. Akibatnya, krisis Suriah semakin berdarah dan telah menelan korban tewas sekitar 27.000 jiwa.

Adapun pejabat yang mendukung diterapkannya skenario Yaman di Suriah dipinggirkan dari lingkaran pengambilan keputusan strategis negara. Farouk Shara diberitakan tidak pernah diundang lagi dalam sidang kabinet yang dipimpin Bashar al-Assad. Bahkan, beberapa waktu lalu Farouk Shara sempat dilaporkan membelot.

Wakil Sekjen Partai Baath Abdullah al-Ahmar malah kini diberitakan dikenai tahanan rumah. Al-Ahmar dalam wawancara dengan harian Asharq al Awsat beberapa waktu lalu terang-terangan menyatakan mendukung diterapkannya skenario Yaman di Suriah, sebagai solusi untuk mengakhiri pertumpahan darah di negara itu. (Musthafa Abd Rahman, dari Kairo, Mesir)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: