Minggu, 21 September 2014

News /

Oposisi Makin Radikal

Selasa, 18 September 2012 | 02:07 WIB

Geneva, Senin - Kehadiran elemen kekuatan asing di Suriah, termasuk kelompok militan, kini sudah semakin nyata. Mereka terlibat pertempuran mati-matian bersama pasukan lokal melawan rezim Damaskus, dan oposisi pun terdorong ke arah yang lebih radikal.

Peningkatan jumlah ”elemen asing”, termasuk kelompok militan itu, diungkapkan tim investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin (17/9). Dalam laporan pertama, tim menyebutkan, kelompok ”teroris” asing telah bergabung dalam pertempuran yang kian tak terkendali di Suriah.

Tim investigasi yang ditunjuk Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mengatakan, sebagian dari pasukan asing itu bergabung dengan kelompok-kelompok perlawanan bersenjata di Suriah. Namun, beberapa kekuatan asing lain beroperasi atas kehendak mereka sendiri. Persoalan ini membuat situasi makin tak terkendali di Suriah.

”Elemen-elemen tersebut cenderung mendorong pejuang anti- pemerintah ke arah posisi yang lebih radikal,” kata ketua tim dan diplomat Brasil, Profesor Paulo Sergio Pinheiro, di hadapan para diplomat lainnya di Geneva, Swiss. Ia menyebutkan kelompok asing itu sebagai ”teroris” meski kata itu tidak muncul dalam laporan tertulis.

Kalangan aktivis mengatakan, sudah 27.000 orang tewas akibat krisis Suriah yang telah berjalan selama 18 bulan ini. Tim PBB tersebut menuding pasukan Presiden Bashar al-Assad dan milisi propemerintah shabiha telah mengobarkan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kejahatan terhadap kemanusiaan itu meliputi, antara lain, pembunuhan, pembantaian atau eksekusi, penyiksaan, penangkapan yang sewenang-wenang, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan anak. Rezim dan milisi diminta bertanggung jawab atas kejahatannya itu.

Tim investigasi PBB juga menyalahkan pihak Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan kelompok bersenjata antipemerintah lainnya telah melakukan serangkaian kejahatan perang. Mereka juga melakukan pembunuhan, eksekusi tanpa proses hukum, dan penyiksaan keji.

Pinheiro mengatakan, situasi HAM di Suriah telah ”memburuk sedemikian rupa sehingga cukup sulit untuk menggambarkan secara adil dalam kata-kata. Pelanggaran HAM meningkat, baik dalam jumlah, kecepatan, maupun skala”.

Diplomat Brasil ini juga menegaskan, frekuensi ”pelanggaran mengerikan” itu sangat besar sehingga tim investigasi tak bisa menyelidiki semuanya. ”Warga sipil, kebanyakan anak-anak, harus menanggung beban kekerasan yang tak berujung ini,” katanya.

Organisasi HAM Human Rights Watch (HRW) mengusulkan agar Dewan Keamanan PBB melimpahkan kasus Suriah kepada Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Menurut Nadim Houry, Deputi Direktur Timur Tengah HRW, dengan pelimpahan ini, ICC akan memiliki yurisdiksi untuk menyelidiki tindak pidana yang dilakukan pihak pemerintah ataupun oposisi.

Konspirasi asing

Damaskus sudah sejak lama mensinyalir kekuatan asing telah hadir di Suriah, dan ikut berperang bersama oposisi melawan pemerintah. Assad menuding konspirasi negara-negara Teluk dan Barat telah memberikan dana dan pelatihan kepada oposisi.

Duta Besar Suriah untuk PBB Faysal Khabbaz Hamoui mengakui laporan tim PBB itu. Dia setuju dengan Pinheiro tentang kehadiran unsur-unsur asing itu, dan mengatakan, ”pihak internasional telah mendorong peningkatan krisis di Suriah”.

Di pihak lain, Iran, sekutu dekat Assad, mengakui telah mengirim pasukan Quds, pasukan elite Garda Revolusi Iran, ke Suriah untuk pelatihan dan menjadi ”penasihat”. Hal itu disampaikan Panglima Garda Revolusi Brigadir Jenderal Mohammad Ali Jafari, Minggu.

”Sejumlah anggota Pasukan Quds berada di Suriah dan Lebanon, kami memberikan (kepada dua negara ini) bantuan nasihat, saran, dan alih pengalaman kepada mereka,” kata Jafari dalam jumpa pers yang jarang ia lakukan.

Dari hari Minggu hingga Senin, bentrokan bersenjata masih terjadi di sejumlah kota di Suriah. Sebuah helikopter menyerang kota Kafr Aweid di Provinsi Idlib menyebabkan lima anak dan seorang perempuan tewas.

(AP/AFP/REUTERS/CAL)


Editor :