Sabtu, 29 November 2014

News / Internasional

AS Sudah Tahu Sutradara Film Anti-Islam

Jumat, 14 September 2012 | 10:26 WIB

Terkait

WASHINGTON, KOMPAS.com — Seorang pejabat penegak hukum AS, Kamis (13/9/2012), mengatakan, pria bernama Nakoula Basseley Nakoula berada di balik film anti-Islam yang telah memicu serangan massa terhadap misi AS di Mesir, Libya, dan Yaman.

Seorang pria yang menyebut dirinya Sam Bacile mengatakan ia membuat film itu. Kantor berita Associated Press (AP) telah mengaitkan Nakoula dengan Bacile. Seorang konsultan untuk film itu, Steve Klein, sebelumnya mengungkapkan bahwa Bacile memang hanya sebuah nama samaran.

Pejabat penegak hukum itu tidak mau disebut namanya karena ia tidak berwenang untuk membahas sebuah investigasi yang sedang berlangsung.

Orang yang menyebut dirinya sebagai sutradara film berjudul Innocence of Muslims itu awalnya mengklaim berlatar belakang Yahudi dan Israel. Orang itu pun mengaku telah mendapat sokongan dana jutaan dollar AS dari sekitar 100 donor Yahudi. Namun, sejumlah orang yang terlibat dalam film itu mengatakan, pernyataannya tersebut bohong belaka karena sesungguhnya tokoh kunci di balik film tersebut adalah seorang Koptik dari California selatan.

Nakoula (55) mengatakan kepada AP dalam sebuah wawancara di luar Los Angeles pada Rabu bahwa ia yang mengatur logistik untuk perusahaan yang memproduksi film tersebut. Ia membantah telah menyutradarai film itu, tetapi ia mengaku tahu Sam Bacile, orang yang menyebut dirinya sebagai sutradara film itu.

Namun, dari hasil penelusuran jejak nomor ponsel yang dihubungi AP hari Selasa untuk menghubungi si sutradara yang mengidentifikasi dirinya sebagai Bacile, lokasi pengguna ponsel itu berada di alamat yang sama di dekat Los Angeles, tempat Nakoula berada.

Nakoula mengatakan kepada AP bahwa dia seorang Koptik dan mendukung keprihatinan komunitas Koptik terkait ancaman terhadap mereka di Mesir.

Film yang dinilai anti-Islam itu telah memicu protes yang mengakibatkan pembakaran konsulat AS di Benghazi di Libya timur, Selasa. Para pejabat Libya mengatakan, Duta Besar AS untuk negara itu, Chris Stevens, dan tiga warga negara AS lainnya tewas dalam kekerasan itu. Namun, para pejabat AS mengatakan mereka tengah menyelidiki apakah serangan itu merupakan sebuah serangan teroris terencana terkait peringatan 11 tahun serangan 11 September terhadap menara kembar WTC di New York.

Nakoula membantah kalau ia adalah Bacile. Sejumlah dokumen pengadilan federal yang diajukan dalam perkara pidana terhadap dia tahun 2010 menujukkan bahwa Nakoula telah menggunakan sejumlah nama palsu di masa lalu. Di antara nama-nama palsu itu, menurut dokumen tersebut, adalah Nicola Bacily dan Erwin Salameh.

Selama percakapan dengan wartawan AP di luar rumahnya, Nakoula memperlihatkan SIM-nya guna menunjukkan identitasnya, tetapi ibu jarinya tetap berada di atas nama tengahnya, Basseley. Pemeriksaan catatan oleh AP kemudian menemukan nama tengah itu serta hubungan lain ke sosok Bacile.

Film menjijikan


Menlu AS Hillary Clinton telah mengecam film tersebut. Ia menekankan, Pemerintah AS tidak ada hubungannya dengan film itu.

"Bagi kami, bagi saya, secara pribadi, video itu menjijikkan dan tercela. (Film itu) tampaknya punya tujuan sangat sinis, untuk merendahkan sebuah agama besar dan memprovokasi kemarahan," kata Hillary Clinton, Kamis. "Namun, seperti yang saya tegaskan kemarin, tidak ada justifikasi, sama sekali tidak ada, untuk merespons video itu dengan kekerasan."

Clinton mengatakan pada peluncuran dialog strategis antara Amerika Serikat dan Maroko bahwa semua "pemimpin di pemerintahan, pemimpin dalam masyarakat sipil, atau tokoh agama harus menarik garis batas yang tegas dengan kekerasan". "Setiap pemimpin yang bertanggung jawab kini harus berdiri dan menarik garis itu," tuturnya.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: