Jumat, 1 Agustus 2014

News /

Eksportir Berbahan Baku Lokal Diuntungkan

Pelemahan Rupiah Berlanjut

Sabtu, 25 Agustus 2012 | 02:42 WIB

Jakarta, Kompas - Tekanan pelemahan nilai tukar atau depresiasi rupiah atas dollar Amerika Serikat terus berlanjut. Sentimen negatif bersumber dari ketidakpastian perkembangan perekonomian global, termasuk pelambatan perekonomian China.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) hari Jumat (24/8), nilai rupiah ada di level Rp 9.504 per dollar AS. Melemah 9 poin dari posisi sehari sebelumnya. Rupiah juga melemah dari posisi sebulan lalu pada level Rp 9.488 per dollar AS.

Dari catatan BI, sepanjang Juli, nilai rupiah secara point-to-point melemah 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya (secara bulanan) ke level Rp 9.445 per dollar AS. Atau rata-rata melemah 0,29 persen (secara bulanan) menjadi Rp 9.433 per dollar AS.

BI menyatakan, tekanan atas nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global terkait krisis Eropa, pemulihan ekonomi AS yang masih rentan, serta pelambatan ekonomi China. Di sisi lain, ekspor yang melambat juga menimbulkan tekanan atas nilai rupiah.

Dalam pidato pengantar RAPBN 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kondisi yang sama. Sampai dengan Juli 2012, rata-rata nilai tukar rupiah tercatat Rp 9.241 per dollar AS. Melemah sekitar 6,04 persen bila dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama 2011 sebesar Rp 8.715 per dollar AS.

Nilai tukar rupiah sebagai basis perhitungan RAPBN 2013 adalah Rp 9.300 per dollar AS. Tingkat inflasi 4,9 persen.

Sentimen negatif masih menggelayuti perekonomian global. Spekulasi stimulus baru di AS memudar, sementara belum jelas arah penyelesaian krisis utang di Uni Eropa (UE). Pelambatan perekonomian China juga menjadi perhatian investor global.

Bahan baku domestik

Pelemahan nilai rupiah atas dollar AS menguntungkan eksportir yang mengandalkan bahan baku dalam negeri. Disayangkan, sebagian besar industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Polah Tjahyono yang dihubungi di Yogyakarta, mengatakan, ”Eksportir berbahan baku dalam negeri, seperti mebel, sesungguhnya berpeluang besar untuk mengeruk keuntungan dari pelemahan nilai rupiah,” tegas Ambar.

Ambar memandang jatuhnya pasar ekspor dan pelemahan rupiah yang masih normal menjadi sinyal pasar ekspor menguat kembali. Bagi perajin mebel dan kerajinan yang tidak bergantung pada bahan baku impor, mengharapkan pelemahan rupiah berlanjut hingga Rp 10.000 per dollar AS.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Benny Soetrisno juga sependapat. ”Pelemahan rupiah sangat menguntungkan eksportir terutama berbahan baku lokal. Pemerintah tentu punya perhitungan tersendiri sehingga pelemahan rupiah yang terjadi saat ini terkesan hanya bersifat sementara,” kata Benny. (BEN/OSA)


Editor :