Minggu, 26 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 26 Mei 2013 | 07:27 WIB
Wikileaks
Ekuador Ancam Inggris
Penulis : Simon Saragih | Minggu, 19 Agustus 2012 | 14:42 WIB
Dibaca:
|
Share:
Ekuador Ancam Inggris Wired.com Bradley Manning (berkaca mata), tentara AS yang dituduh membocorkan rahasia negara ke Wikileaks

GUAYAQUIL,KOMPAS.com — Ekuador telah menerima dukungan kuat dari negara-negara Amerika Latin dalam menghadapi Inggris, yang sebelumnya mengancam Ekuador. Kini Ekuador balik mengancam Inggris bahwa negara itu akan menghadapi konsekuensi dahsyat jika aparat Inggris menyerbu Kedutaan Besar Ekuador di London.

Hal ini terkait tindakan Ekuador memberikan suaka atau perlindungan kepada Julian Assange, salah satu pendiri situs WikiLeaks, yang membongkar kesemena-menaan para diplomat AS di banyak negara.

Swedia menuntut Inggris agar mengekstradisi Assange dengan tuduhan pelecehan seksual. Namun, Ekuador menduga, itu hanyak taktik yang akan membuat Assange diekstradisi di AS dan akan menghadapi hukuman yang tidak setimpal di AS. Inggris mengancam akan menyerbu masuk ke Kedubes Ekuador di London, di mana Assange bermukim sejak 19 Juni.

Namun, Ekuador mendapatkan dukungan dari Venezuela dan negara-negara anggota Aliansi Bolivar untuk Warga Amerika Kami (Bolivarian Alliance for the People of Our America/ALBA). Pada hari Sabtu, para menteri luar negeri ALBA terbang ke ibu kota Ekuador untuk menyatakan dukungan.

"Kami mengingatkan Negara Kerajaan Inggris akan konsekuensi dahsyat di seluruh dunia jika berani memasuki Kedubes Ekuador di London," demikian pernyataan para Menlu ALBA, Sabtu (18/8/2012), yang dituliskan kantor berita Agence France Presse (AFP) pada Minggu (19/8/2012). Pernyataan itu dibacakan oleh Menlu Ekuador Nicolas Maduro.

Sikap tegas Ekuador juga ditunjukkan oleh Presiden Rafael Correa. "Tidak akan pernah terjadi, setidaknya semasa pemerintahan saya. Kami tak akan pernah tunduk pada ancaman Inggris yang vulgar, tanpa pemikiran, dan juga tidak bisa diberi toleransi. Kami tidak akan menyerah soal kedaulatan. Kami menghargai siapa saja dan kami selalu menghargai dialog, tetapi semua keputusan final ada di tangan kami," kata Correa.

Editor :
Agnes Swetta Pandia