Sabtu, 18 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 18 Mei 2013 | 18:41 WIB
Skandal di Militer AS
Pemerkosaan Tentara Perempuan Dibeberkan
Penulis : Simon Saragih | Senin, 13 Agustus 2012 | 16:12 WIB
Dibaca:
|
Share:
Pemerkosaan Tentara Perempuan Dibeberkan Shutterstock Ilustrasi

SAN DIEGO, KOMPAS.com — Hambatan besar dan suka-duka para tentara perempuan korban pemerkosaan diekspos di situs YouTube saluran WIGS.

Tayangan tiga seri itu diluncurkan hari Senin (13/8/2012) ini dengan fokus pada drama atau derita para tentara perempuan, sebagaimana diberitakan kantor berita Associated Press.

Tayangan itu menampilkan artis Hollywood, Jennifer Beals, yang pernah membintangi film terkenal Flashdance dekade 1980-an. Tayangan berseri itu berjudul Lauren, dan menuturkan dari dekat tantangan yang dihadapi para tentara perempuan korban pemerkosaan.

Mereka sulit mendapatkan keadilan walau terbukti jadi korban pemerkosaan.

Namun, kasus itu telah mendapatkan perhatian besar para petinggi militer AS tahun 2012. Departemen Pertahanan AS memperkirakan, sekitar 86 persen kasus pemerkosaan tidak dilaporkan.

Ada indikasi bahwa para perempuan khawatir, pengaduan akan menghambat karier serta mereka tidak percaya pada sistem pengadilan di militer AS. Pada tahun lalu saja, hampir 3.200 kasus pemerkosaan dilaporkan terjadi di tubuh militer AS.

Para petinggi militer mengatakan, pelecehan seksual tidak saja menghancurkan perasaan para korban, tetapi juga mengganggu kesiagaan mereka bertugas.

Pentagon, julukan bagi Departemen Pertahanan AS, telah membentuk saluran telepon khusus dan mencoba memberi semangat kepada para korban agar berani mengadu.

Tayangan di YouTube itu disutradarai Lesli Linka Glatter. Ini menunjukkan kepada pemirsa betapa tidak adil dan tidak simpatinya militer terhadap para tentara perempuan. Dalam tayangan juga dibeberkan pergulatan batin korban, yang sebenarnya mencintai profesi militer, tetapi telah merasa dikhianati.

Jennifer Beals melakoni Mayor Jo Stone, yang sedang mendalami laporan pemerkosaan dari seorang sersan bernama Lauren. Sersan ini dikisahkan telah diperkosa tiga tentara rekannya.

Stone bertanya, apakah tentara perempuan muda itu telah memikirkan untuk beralih karier untuk menjadi penulis fiksi sebagai akibat dari pelaporannya.

Dia juga bertanya, berapa gelas minuman ditenggak pada malam kejadian itu. Stone, dalam tayangan itu, memberi peringatan keras seandainya Lauren melanjutkan kasus itu dengan pelaporan.

"Bahkan, jika tentara pelaku dinyatakan bersalah, para korban tetap mengalami masalah karier dan penurunan gaji, tidak lain dari itu," kata Stone terhadap para tentara bawahannya. "Namun, yang akan terjadi kepada Anda adalah dampak negatif pelaporan pada karier."

Peran Stone menunjukkan peringatan kepada korban untuk berhati-hati jika berniat melaporkan pemerkosaan.

Seri kedua tayangan itu akan menyusul hari Rabu dan Jumat pekan ini. Beals mengatakan, kalimatnya mungkin tidak terasa menyakitkan dalam tayangan itu, tetapi dipastikan para pemirsa akan menyadari betapa kompleks situasi yang dihadapi para komandan, seperti Stone, karena dia pun berjuang keras dalam meraih jabatan.

"Walau dia sudah berjuang keras, hanya ada sedikit rasa kemanusiaan. Anda harus menonton semua tayangan sebelum menyadari betapa kisah ini terjadi atau telah menjadi sebuah kenyataan," katanya.

Produser tayangan itu adalah Donald P Bellisario, juga sedang berkarier di Marinir AS. Dia mengatakan, sebelumnya tidak sadar bahwa ada sistem militer yang membuat para perempuan terhambat melaporkan kasus-kasus pemerkosaan.

"Persoalan terbesar ketika Anda bertugas di luar negeri, atau ketika Anda sedang dinas, maka yang Anda akan hadapi adalah tentara perempuan atau tentara lelaki dan para komandan Anda. Jika komandan tidak ingin Anda melalor, Anda harus mengatasinya dengan cara lain."

Belasan veteran AS korban pemerkosaan telah mengajukan gugatan di pengadilan. Ini bertujuan memaksa Pentagon mengatasi kasus itu. Beberapa pensiunan atau yang sedang bertugas, 15 perempuan dan dua lelaki, melukiskan kejadian di mana para pelaku pemerkosaan terus saja melanjutkan ulahnya dan para korban terus diminta melayani hasrat mereka.

Dalam beberapa kasus, si pelaku terus saja menguber dan menghantui para korban. Bellisario berharap tayangan itu akan mendorong pencegahan pemerkosaan dan mengadili si pelaku hingga tuntas.

"Harapan saya, warga menyadari bahwa tayangan ini bukan bertujuan menodai sebuah institusi besar, tetapi mencoba menjaga standar sekaligus meminta bahwa persoalan yang ada harus diatasi. Ini sama sekali bukan sebuah tindakan antimiliter."

Anuradha Bhagwati, seorang pensiunan kapten Marinir dan Direktur Eksekutif Service Women's Action Network, termasuk yang mendorong penuntasan kasus.

Dia diminta oleh Bellisario mengevaluasi tayangan itu sebelum diluncurkan ke publik. Bhagwati mengatakan, topik tayangan itu cukup realistis. Tema tayangan mengena bagi ribuan para tentara perempuan.

Menurut Bhagwati, statistik Departemen Pertahanan menunjukkan kurang dari satu dari setiap lima kejadian yang dilaporkan. Masalahnya, tidak ada independensi dalam penuntasan kasus dan sering para pelaku bebas tanpa konsekuensi.

"Satu hal yang diungkapkan dalam tayangan ini adalah sering tidak ada keadilan di sistem pengadilan militer," kata Bhagwati. (AP)

Editor :
Agus Mulyadi