Minggu, 19 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 19 Mei 2013 | 08:23 WIB
Indonesia Didesak Tak Tinggal Diam
Jumat, 10 Agustus 2012 | 07:34 WIB
Dibaca:
|
Share:
Indonesia Didesak Tak Tinggal Diam AFP PHOTO / KCNA VIA KNS Foto yang dirilis kantor berita Korea Utar, Korean Central News Agency (KCNA) pada Minggu (16/7/2012), menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melambaikan tangan pada para anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri Rakyat Korea (KPISF) di Pyongyang. Kim Jong Un dinyatakan resmi bergelar Marsekal Korea Utara, jabatan tertinggi militer Korut, Selasa (17/7/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia diharapkan bisa ikut mendorong terjadinya perubahan yang signifikan di Korea Utara, terutama terkait upaya penegakan hak asasi manusia di negeri penuh misteri itu. Indonesia, selain berpengaruh di kawasan dan dunia, juga punya kedekatan historis dengan Korut.

Namun, untuk bisa memainkan peran itu, Indonesia harus bersikap tegas dan mengambil posisi yang jelas mengingat ada banyak korban pelanggaran HAM di Korut. Mereka menderita, atau bahkan tewas, dalam kamp-kamp konsentrasi, sebagian besar dari mereka anak-anak dan perempuan.

Pernyataan itu disampaikan Jae Won dari Handong International Law School, Korea Selatan, Kamis (9/8/2012), saat berbicara dalam diskusi bertema ”North Korea: Modern Outpost of Slavery”, yang digelar Human Rights Watch (HRW) di Jakarta.

”Dalam konteks penegakan HAM, Anda tidak bisa bersikap netral. Anda harus bersikap, entah mendukung para korban atau malah pelaku pelanggaran HAM. Dalam kehidupan nyata, sikap netral sama sekali tak bisa diterima. Anda harus berani ambil risiko, terutama untuk membela para korban,” ujar Won.

Ia mengingatkan, ada banyak korban pelanggaran HAM yang dipenjara di kamp-kamp konsentrasi di Korut tanpa mereka tahu apa kesalahan mereka. Dalam banyak kejadian, mereka dipenjara lantaran kesalahan yang tidak langsung mereka lakukan berdasarkan sistem ”pengkastaan” yang melandasi sistem sosial politik di Korut.

”Sebagai negara berpengaruh di ASEAN, bahkan dunia, Indonesia jangan diam saja. Kalau Korut ibarat teman baik dan dia ketahuan menyiksa istri atau anaknya sendiri, apa Indonesia akan diam saja? Apalagi Utusan Khusus HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Marzuki Darusman, berasal dari Indonesia,” ujar Won.

Sikap senada disuarakan J De Rivero dari HRW yang meminta Indonesia tidak diam saja atau bersikap abstain atau bahkan menolak mendukung sejumlah upaya dunia, termasuk di PBB, dalam menyikapi berbagai kasus pelanggaran berat HAM di Korut seperti selama ini terjadi.

Kesaksian korban


Diskusi itu juga menampilkan kesaksian mantan tahanan politik di kamp konsentrasi Nomor 18 di Korut, Hye Sook Kim. Dia dipenjara sejak usia 13 tahun pada tahun 1975 tanpa pernah tahu apa kesalahannya.

Dia dan seluruh keluarganya ditahan di kamp konsentrasi itu dan dipaksa bekerja di pertambangan yang ada di sana. Dia dua kali berupaya melarikan diri, dan saat berhasil menyeberang ke China dia dijual sebagai mempelai perempuan kepada seorang dokter berusia 53 tahun, lalu kabur ke Korsel.

Saat ditanya pendapatnya tentang pemimpin muda Korut, Kim Jong Un, Hye Sook Kim mengaku sedikit berharap mengingat Jong Un pernah tinggal dan belajar di negara Barat sehingga dia paham bagaimana rakyat hidup di alam demokrasi. (DWA)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Kistyarini