AFP PHOTO/Manjunath KIRAN
Seorang petani India membajak ladangnya dengan dibantu anggota keluarganya di pinggiran Bangalore, Jumat (3/8/2012). Departemen Meteorologi India memprediksi curah hujan pada musim hujan tahun ini akan lebih rendah dari biasanya. Komisi Perencanaan India memperingatkan, curah hujan yang rendah bisa emmbuat pertumbuhan ekonomi negara itu turun dari 6,5 persen tahun lalu menjadi hanay 6 persen tahun ini.
MUMBAI, KOMPAS.com - Bencana kekeringan bisa membuat situasi yang buruk jadi bertambah buruk bagi perekonomian India yang telah dilumpuhkan oleh melambatnya pertumbuhan dan inflasi yang membandel. Pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa turun menjadi hanya sekitar 6 persen.
Kamis pekan lalu, New Delhi mengonfirmasikan kekeringan pertama dalam tiga tahun dengan curah hujan pada musim hujan kali ini diperkirakan kurang dari 90 persen dari rata-rata curah hujan tahunan di negara itu. Kondisi tersebut akan memukul India, yang lebih dari separuh lahan pertaniannya tidak memiliki saluran irigasi.
Badan Meteorologi India mengatakan, curah hujan dari Juni hingga 1 Agustus berada 19 persen di bawah normal, dengan Agustus sampai September juga akan lemah karena dampak El Nino.
Pada beberapa bulan terakhir, ramalan bagi India telah memburuk dengan inflasi tinggi, suku bunga yang tinggi, membengkaknya defisit, anjloknya kepercayaan dunia usaha, dan sekarang kekhawatiran yang meningkat akan kekeringan.
Jumat pekan lalu, Deputi Ketua Komisi Perencanaan India, Montek Singh Ahluwalia, mengatakan, jika sektor pertanian tidak tumbuh seperti perkiraan awal, pertumbuhan ekonomi India akan anjlok mendekati 6 persen untuk tahun fiskal sampai Maret 2013.
Angka itu berarti pertumbuhan ekonomi India turun dibandingkan dengan pertumbuhan 6,5 persen yang dicapai tahun lalu, dan jauh di bawah pertumbuhan hampir 10 persen pada sebagian besar dekade lalu.
Asosiasi Kamar Dagang dan Industri India, Sabtu (4/8), juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi India akan menyusut menjadi 6,0-6,3 persen akibat musim hujan yang lemah dan situasi ekonomi global yang terus memburuk.
Sementara itu, ekonom Goldman Sachs Tushar Poddar bahkan memberikan perkiraan pertumbuhan yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 5,7 persen, dalam catatan yang ia berikan kepada para kliennya.
Semua perkiraan ini jauh di bawah perkiraan pertumbuhan yang disampaikan Pemerintah India, Maret lalu, yakni 7,6 persen.
Curah hujan yang rendah dalam empat bulan musim hujan, yang dimulai bulan Juni, juga akan menaikkan harga pangan dan menggerus daya beli masyarakat di negara yang lebih dari setengah populasinya bergantung pada ekonomi pedesaan.
Negara-negara bagian, seperti Haryana, Punjab, Uttar Pradesih, dan Rajasthan di India utara, Gujarat dan Maharashtra di barat, serta Karnataka di selatan, telah melaporkan curah hujan yang sedikit dan khawatir kekeringan segera melanda.
Padahal, negara-negara bagian itu adalah penghasil utama beras, gandum, dan minyak sayur di India.
Beberapa negara bagian India telah menyatakan kondisi mendekati kekeringan dan meminta dana federal ekstra atau mengumumkan subsidi besar. Dana subsidi itu dibutuhkan untuk membantu petani membeli bahan bakar diesel guna membangkitkan listrik untuk mengairi ladang mereka.
Pada kekeringan terakhir tahun 2009, curah hujan di India 23 persen di bawah normal, yang memicu kenaikan harga barang dan inflasi menjadi dua digit.
Rendahnya curah hujan berdampak pada perekonomian India karena sekitar 60 persen dari penduduk bekerja di pertanian. Lebih dari setengah lahan pertanian di India bergantung pada air hujan. Sektor pertanian menyumbang sampai 20 persen dari produk domestik bruto India.
Perubahan iklim
Dari AS dilaporkan, kajian terbaru seorang ilmuwan top Pemerintah AS menyebutkan, suhu panas ekstrem dan kekeringan yang melanda AS, Eropa, dan kawasan lain pada tahun-tahun belakangan ini adalah dampak pemanasan global.
Kajian oleh ilmuwan NASA, James Hansen, menyebutkan, perubahan iklim menjadi penyebab kekeringan tahun lalu di Negara Bagian Texas dan Oklahoma di AS, gelombang panas tahun 2010 di Rusia, dan gelombang panas di Eropa tahun 2003 yang menyebabkan puluhan ribu orang tewas.
”Ini bukan teori ilmiah. Kita kini mengalami fakta ilmiah,” kata Hansen, ilmuwan pada Goddard Institute for Space Studies NASA di New York dan seorang guru besar di Columbia University.
Analisis itu ditulis sebelum kekeringan dan gelombang suhu panas yang saat ini melanda sebagian besar AS. Namun, Hansen yakin ini juga contoh lain dari efek pemanasan global.(Reuters/AFP/AP/DI)