Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 20:14 WIB
Keluarga Kurihara Jual Pulau di Kawasan Sengketa
Penulis : Pieter P Gero | Jumat, 20 Juli 2012 | 23:14 WIB
|
Share:

TOKYO, KOMPAS.com — Keluarga Kurihara asal Jepang yang memiliki pulau yang dikenal dengan Pulau Senkaku dalam bahasa Jepang, atau Diaoyu dalam bahasa China, berniat menjual pulau miliknya yang terletak di jajaran kepulauan di Laut China Timur. Mereka ingin agar pulau ini segera terjual karena terletak di kawasan kepulauan yang diperebutkan antara China dan Jepang.

Kantor berita AFP, Jumat (20/7/2012), melaporkan, keluarga Kurihara sudah melakukan negosiasi dengan pejabat kota Tokyo, menyangkut penjualan pulau yang saat ini disewakan kepada Pemerintah Jepang. Nilai penjualan diperkirakan sekitar 1,5 miliar yen atau sekitar Rp 190 miliar. Waktu sewa pulau ini kepada Pemerintah Jepang akan berakhir pada Maret 2013.

"Kami masih punya waktu kontrak dengan pemerintah yang akan berakhir pada Maret tahun depan. Karenanya, kami ingin mencapai kesepakatan dengan Tokyo segera setelah itu," kata Hiroyuki Kurihara, salah satu saudara termuda dari Keluarga Kurihara. "Kami berharap bisa segera mungkin mencapai kata sepakat," ujarnya.

Penegasan ini muncul hanya berselang sepekan setelah Duta Besar Jepang untuk China kembali ke Beijing, setelah dipanggil ke Tokyo untuk membahas sengketa perebutan pulau antara Jepang dan China. Ketegangan di antara kedua negara meningkat pada pekan lalu setelah sebuah kapal China dua kali memasuki perairan dekat dengan kawasan kepulauan yang kaya minyak, yang diklaim bersama oleh Beijing dan Tokyo.

Keluarga Kurihara mengesampingkan kemungkinan menjual pulau itu kepada Pemerintah Jepang, kecuali jika mencapai kesepakatan yang terpisah dengan pemerintah Tokyo. Penjualan ini menjadi tanda dari babak baru dalam penjualan pulau yang sudah sekian lama dipersengketakan China dan Jepang itu.

Keluarga Kurihara membeli pulau yang terletak sekitar 2.000 kilometer selatan Tokyo ini, sekitar satu dekade lalu. Pulau ini dibeli dari seorang warga Jepang, dengan syarat pulau ini nanti tak boleh dijual kepada pihak perorangan.

Kawasan kepulauan yang kaya minyak dan juga kaya ikan ini sudah dihuni oleh nelayan Jepang sebelum berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945.

Editor :
Nasru Alam Aziz