AFP PHOTO / HO / UNITED NATIONS / David Manyua
Foto yang dirilis PBB menunjukkan kepulan asap terlihat di kawasan permukiman di Talbisah di kota Homs, pada 9 Juni 2012. Laporan Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan, total korban tewas dalam pemberontakan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad telah melebihi 14.000 orang. Sebagian besar di antaranya adalah warga sipil.
MANILA, KOMPAS.com — Pekerja Filipina yang berniat meninggalkan Suriah diminta membayar hingga 10.000 dollar AS oleh majikan mereka sebelum pergi, Departemen Luar Negeri Filipina di Manila mengatakan, Selasa (17/7/2012).
Para majikan menuntut karyawan-karyawan itu mengembalikan biaya penempatan mereka, kata Raul Hernandez, juru bicara Deplu.
"Masalahnya sekarang, para bos itu meminta lebih banyak uang untuk penggantian biaya mempekerjakan mereka. Sebelumnya hanya 4.000 dollar per orang, kini bahkan sudah mencapai 10.000 dollar," jelas Hernandez.
Hernandez menjelaskan, Kedutaan Besar Filipina di Damaskus sering harus membantu tawar-menawar harga dengan para majikan karena pekerja-pekerja itu tidak mampu membayar tuntutan itu.
Masalah lainnya adalah pekerja Filipina terus berdatangan. Mereka dibawa oleh penyalur tenaga kerja ilegal di Suriah, meskipun kekerasan terus meningkat di negara itu.
Dia memperingatkan agar rakyatnya tidak "tertipu" tawaran-tawaran pekerjaan yang menjanjikan gaji besar.
Sampai hari ini, kata Hernandez, Pemerintah Manila sudah memulangkan lebih dari 1.800 warganya dari Suriah. Sementara itu, lebih dari 1.000 orang lainnya masih dalam proses.
Pemerintah Filipina melarang warga negaranya bekerja di Suriah dan memerintahkan mereka meninggalkan negara itu sejak Desember lalu, 10 bulan setelah pecahnya pemberontakan terhadap Presiden Bashar al-Assad.

