Kapal perang China tersebut dideteksi masuk ke wilayah perairan sengketa sejak Rabu malam, dan karam di perairan sekitar 110 kilometer sebelah barat pantai Provinsi Palawan.
Menurut juru bicara Kedutaan Besar China di Manila, Zhang Hua, Minggu (15/7), kapal perang jenis fregat itu dilaporkan hanya mengalami kerusakan kecil tanpa jatuh korban luka. Kapal itu juga tak menumpahkan minyak yang bisa mencemari perairan.
”Ada enam kapal Angkatan Laut China, salah satunya kapal bantuan mekanik, yang datang membantu mengapungkan kembali kapal perang yang karam. Kami juga mengerahkan kapal- kapal penjaga pantai kami ke sana jika sewaktu-waktu mereka membutuhkan bantuan,” ujar Kepala Staf Angkatan Laut Filipina Alexander Pama.
Filipina, menurut Menteri Luar Negeri Albert del Rosario, terus menyelidiki insiden tersebut. Namun, mereka tidak akan sampai mengajukan nota protes diplomatik.
”Kami tidak yakin China punya niat buruk dengan kehadiran kapal perang itu di wilayah ekonomi eksklusif (ZEE) kami. Kami memang berpikir mengajukan protes, tetapi kami memilih tidak melakukannya,” ujar Del Rosario.
Seiring dengan klaim China atas seluruh wilayah perairan Laut China Selatan, kawasan Beting Half Moon menjadi kawasan lain yang dipersengketakan selain Beting Scarborough. Gugusan kepulauan karang Half Moon oleh pihak Filipina disebut Hasa Hasa, sedangkan China memasukkannya dalam rangkaian Kepulauan Nansha.
Kepulauan Nansha sendiri oleh dunia internasional dikenal dengan nama Kepulauan Spratly, yang diyakini mengandung sumber daya alam, minyak, dan gas bumi yang kaya.
Kepulauan Spratly diperebutkan banyak negara. Tidak hanya China dan Filipina, empat negara lain, yaitu Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Brunei, juga bersengketa.
Hingga kini, China dan Filipina terus bernegosiasi terkait sengketa di Beting Scarborough, yang berjarak sekitar 700 kilometer dari Hasa Hasa. Kedua negara terus bersitegang setidaknya dalam tiga bulan terakhir.
Ketegangan juga mewarnai pertemuan rutin tahunan antarmenlu negara anggota ASEAN (AMM) ke-45 sepanjang pekan lalu di Phnom Penh, Kamboja. Akibatnya, AMM untuk pertama kali gagal mencapai kata sepakat dalam bentuk komunike bersama, menyusul perbedaan tajam antara tuan rumah dan Filipina soal perlu tidaknya memasukkan insiden di Beting Scarborough di dalamnya.
Kantor berita China Xinhua dalam tulisan opininya mengecam Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton, yang dianggap terlalu ingin campur tangan dalam masalah sengketa di Laut China Selatan.
Kecaman muncul menyusul pernyataan Hillary dalam pertemuan Forum Kawasan ASEAN (ARF) di Phnom Penh pekan lalu. Hillary meminta semua pihak bersengketa bisa menuntaskan masalah tanpa paksaan, intimidasi, ancaman, dan tentunya tanpa penggunaan senjata.
Hillary dinilai ikut campur dengan terus-menerus menekankan isu kepentingan AS di perairan tersebut, sekaligus juga secara terbuka mendukung sikap yang diambil beberapa negara anggota ASEAN, yang sebetulnya justru mempersulit sengketa maritim itu.
Berbagai ketegangan yang terjadi dilaporkan juga membuat Taiwan mempertimbangkan kembali rencananya menambah panjang landas pacu pesawatnya di Pulau Taiping.
Landasan di pulau yang juga bagian Kepulauan Spratly, sekitar 1.376 kilometer dari Taiwan itu, dibangun tahun 2006 dengan panjang 1,15 kilometer dan akan ditambah 500 meter lagi.(AP/AFP/BBC/DWA)

