Reuters/Choi Dae-woong
Seorang mudang, sebutan untuk dukun di Korea Selatan, memimpin upacara doa pada peresmian dermaga di Incheon, untuk mengusir roh jahat yang mengancam nelayan dan membawa keberuntungan bagi siapapun yang berada di dalam kapal, pada 24 Juni 2012.
SEOUL, KOMPAS.com - Makin modern kehidupan di suatu negara biasanya makin jauh masyarakatnya dari hal-hal berbau klenik. Namun, warga Korea Selatan (Korsel) akhir-akhir ini justru makin banyak menggunakan jasa dukun.
Pada era 1970-an, praktik perdukunan sempat dilarang di Korsel karena dianggap hanya membohongi masyarakat. Namun, akhir-akhir ini mengunjungi mudang, sebutan bagi dukun di Korea, adalah hal yang biasa.
Para politisi sudah tak malu-malu lagi bertemu dengan mudang untuk menanyakan hal-hal, seperti apakah makam leluhurnya perlu dipindah agar ia terpilih lagi dalam pemilu. Para nelayan di kota pelabuhan Incheon juga mengundang para dukun untuk mengusir setan dari kapal mereka.
Shin Kwang-Yeong, profesor sosiologi dari Universitas Chung-Ang di Seoul, menduga fenomena ini berkaitan dengan tingkat stres yang tinggi di kalangan warga Korsel. ”Banyak orang Korea yang merasakan ketidakpastian dan hidup tak stabil, jadi mereka mencari sesuatu yang bisa memberi rasa aman,” tutur Shin.(AP/Reuters/DHF)
