Senin, 25 Juni 2012

News

Mencari Wartawan Kuat dan Punya Karisma

  • Senin, 25 Juni 2012 | 08:06 WIB
Ilustrasi | Shutterstock

SEKITAR 30 wartawan berkumpul di Lantai 13 kantor National Press Club, di Washington DC, pertengahan Mei lalu. NPC, organisasi jurnalis Amerika Serikat yang didirikan tahun 1908, menugaskan mereka, termasuk koresponden Kompas di Washington DC, Herman Hakim, untuk menilai berkas lamaran mahasiswa D-3 dan S-1 dari berbagai universitas. Mereka mendaftar untuk memperoleh beasiswa Feldman Fellowship and Zimmerman Scholarship yang diselenggarakan NPC setiap tahun.

Berkas lamaran dinilai dengan sistem rotasi oleh juri yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap berkas lamaran diperiksa masing-masing anggota kelompok. Setelah melewati seleksi kelompok dilakukan pemungutan suara untuk mendapatkan dua pemenang.

Andrea Snyder, Ketua Komisi Beasiswa NPC, mengumumkan, persyaratan untuk memperoleh beasiswa adalah karya jurnalistik pelamar mencerminkan komitmen, daya persuasi, taat asas, kemampuan berkomunikasi yang efektif, dan berjiwa pemimpin. Pemenuhan syarat ini diharapkan menghasilkan wartawan AS yang mampu memengaruhi orang lewat karya jurnalistik yang lugas, santun, kuat, dan berkarisma.

Kriteria NPC yang ketat ini adalah upaya membantu mahasiswa menjadi wartawan pada saat dunia jurnalisme AS dan dunia menghadapi pemain-pemain baru seperti blog, news portal, dan media sosial lain, yang sering menyimpang dari standar jurnalistik baku.

Laporan seorang pelamar asal Salt Lake, Utah, menarik perhatian juri karena kerap tampil di halaman muka The Deseret News. Pelamar itu mengangkat isu kemanusiaan yang mendasar, seperti kelaparan, gugatan terhadap perusahaan yang mengesampingkan fungsi sosial, dan pelacuran anak.

Dalam sebuah tulisan berjudul ”Kemiskinan, Kelaparan di Kalangan Pensiunan Meningkat”, dia dengan tangkas menuturkan penderitaan pensiunan. Pilihan katanya pas. Mereka tidak hanya miskin, tetapi perutnya keroncongan. Karya itu membuatnya terpilih untuk mendapat beasiswa S-1.

Pentingnya pilihan kata didapati juri dari seorang pelamar yang gagal. Dalam pengantar lamarannya, dia menulis journalism is not just about information. It is about choosing the words that can paint and change history. (Jurnalisme bukan semata informasi, tetapi pilihan kata yang bisa memberi corak dan mengubah sejarah).

Adapun pemenang beasiswa D-3 memperlihatkan kemampuan mengubah dan mengilhami masyarakat. Pelamar berusia 18 tahun itu melaporkan kegiatan usaha yang lesu di kota asalnya di Hawaii dengan menawarkan solusi.

Seleksi beasiswa ini berlangsung di tengah krisis yang menimpa industri media massa, terutama media cetak, dalam beberapa tahun terakhir dan radio internasional gelombang pendek (SW) sejak paruh pertama 1990-an. Badan siaran (radio) publik negara maju yang dipancarkan ke negara lain, termasuk Indonesia, mengungsi dari SW ke badan siaran (radio) niaga lokal. Pengungsian ini justru mengurangi mutu pelayanan dan mengganggu proses penyampaian pesan karena mitra lokal sering menempatkan siaran sebagai bumper.

Mengomentari krisis jurnalisme ini, terutama di AS, wartawan dan penulis biografi terkemuka Walter Isaacson dalam ceramahnya di NPC, 14 Mei, mengatakan, media massa disesaki omong kosong dan opini. Menurut dia, wartawan perlu berlatih menulis dan bereksperimen terus-menerus. Kekuatan wartawan terletak pada pelaporan, berkisah, dan bertutur dalam ragam sastra. Dalam proses internalisasi di perusahaan, kekuatan dan sosok masing-masing wartawan memperkuat kepercayaan masyarakat.

Proses seleksi calon penerima beasiswa ini dilakukan NPC, sebuah wadah wartawan yang dipandang sebagai kekuatan keempat dalam membentuk AS. Dalam ungkapan yang lebih teologis, seorang tokoh AS menempatkan NPC sebagai tempat tersuci bagi wartawan AS. Prestise dan profesionalisme NPC ini diharap bisa mengilhami industri media di seluruh dunia.

Sumber : Kompas Cetak
Editor : Egidius Patnistik

Berita Terkait

[x] close