Senin, 20 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 20 Mei 2013 | 21:52 WIB
Doktor Kehormatan bagi Suu Kyi
Kamis, 21 Juni 2012 | 08:18 WIB
|
Share:

Doktor Kehormatan bagi Suu Kyi
AP Photo/Lefteris Pitarakis
Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi (kedua dari kanan), dalam prosesi di Universitas Oxford, Oxford, Inggris, Rabu (20/6), untuk mengikuti upacara penganugerahan gelar doktor dari almamaternya itu. Suu Kyi, yang berkunjung ke Inggris untuk pertama kali dalam 24 tahun, dianugerahi doktor kehormatan di bidang hukum perdata tahun 1993, saat dia berada dalam tahanan rumah di Myanmar.

TERKAIT:

OXFORD, KOMPAS.com - Pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, menerima gelar doktor kehormatan di bidang hukum perdata dari almamaternya, Universitas Oxford, Rabu (20/6/2012). Gelar tersebut diberikan pada 1993, tetapi selama ini tidak bisa diterima Suu Kyi yang menjalani tahanan rumah di Myanmar.

Suu Kyi hadir dengan mengenakan pakaian tradisional Myanmar, longyi, di balik jubah akademik warna merah. Sekuntum bunga tampak tersemat di rambutnya di bawah topi beludru hitam yang dikenakan Suu Kyi.

”Hal terpenting yang saya pelajari adalah penghormatan kepada seluruh peradaban. Di Oxford saya belajar untuk menghormati segala yang terbaik dari peradaban manusia,” tutur Suu Kyi dalam sambutannya. Pahlawan demokrasi Myanmar itu memang pernah belajar ilmu politik, filsafat, dan ekonomi di St Hugh’s College yang merupakan bagian dari Universitas Oxford, pada pertengahan 1960-an.

Di Oxford itu pula ia kemudian bertemu dan menikah dengan Michael Aris, seorang dosen di Universitas Oxford. Mereka kemudian tinggal di Oxford selama hampir dua dasawarsa.

Kehadiran Suu Kyi di Oxford kali ini merupakan bagian dari rangkaian lawatannya ke beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, yang menjadi perjalanan penuh kenangan bagi Suu Kyi.

Sebuah pilihan

Tahun 1988 Suu Kyi terpaksa meninggalkan Inggris untuk kembali ke Myanmar dan merawat ibunya yang sakit keras. Roda sejarah mengubah nasibnya ketika Suu Kyi memutuskan tetap bertahan di Myanmar untuk memperjuangkan demokrasi di sana.

Myanmar waktu itu masih berada dalam cengkeraman rezim junta militer, yang menempatkan Suu Kyi dalam status tahanan rumah selama bertahun-tahun.

Dia bahkan tak dapat menemani suaminya di saat-saat terakhir menjelang kematian Aris karena kanker pada 1999. Suu Kyi khawatir jika ia pergi ke Inggris waktu itu, junta militer tak akan membolehkan dia kembali ke Myanmar.

”Saya sudah sering bilang seperti ini, bahkan berkali-kali sampai bosan. Saya tak melihat apa yang saya lakukan di masa lalu sebagai sebuah pengorbanan. Semua itu adalah pilihan yang telah dan harus saya ambil,” ujar Suu Kyi saat diwawancarai stasiun televisi ITV.

”Justru (mendiang) suami dan kedua anak laki-laki sayalah yang sebenarnya telah berkorban. Terutama kedua anak saya, yang saat itu masih berusia sangat muda. Sungguh berat bagi mereka ketika kedua orangtuanya tak bisa hadir di dekat mereka setiap saat,” tambah Suu Kyi.

Suu Kyi mengaku sangat sedih atas keadaan itu. Namun, di sisi lain, Suu Kyi mengaku pada akhirnya seseorang memang harus mampu memutuskan apa yang menjadi prioritasnya.

(AFP/DWA)

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Kistyarini