Sabtu, 2 Agustus 2014

News / Internasional

Damaskus Mulai Diperebutkan

Selasa, 12 Juni 2012 | 17:53 WIB

Terkait

ISTANBUL, KOMPAS.com - Pemerintah Suriah menuduh para pemberontak menyerang stasiun pembangkit listrik di pusat kota Damaskus pada Jumat pekan lalu. Tuduhan yang sama dilontarkan untuk menggambarkan gerakan demonstrasi yang pecah di kota perbatasan Daraa lebih dari setahun lalu.

Namun baku tembak dan ledakan yang terdengar di seluruh ibukota Suriah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan titik balik dalam konflik Suriah.

Pertempuran-pertempuran kecil mematahkan klaim bahwa Damaskus aman. Para pakar Suriah mengatakan, pertempuran untuk merebut dua kota terbesar, Damaskus dan ibukota perdagangan Aleppo, sudah dimulai.

"Di kedua kota itu kami tidak saja melihat lebih banyak kontak senjata dibandingkan sebelumnya, tetapi ada kebangkitan gerakan protes," kata Peter Harling, pengamat yang bekerja dengan International Crisis Group, yang berpusat di Damaskus.

"Yang berubah adalah konflik sudah bergerak ke area-area yang diklaim oleh rezim (Bashar al-Assad) didominasi silent majority yang menginginkan stabilitas, bukan perubahan rezim," imbuh Harling.

Selubung itu pecah dalam beberapa pekan terakhir, bukan oleh peluru atau bom, melainkan melalui gembok dan kunci.

Pada Minggu, 28 Mei, berderet toko dan kios di Pasar Hamidiya yang berlokasi di jantung kota Damaskus tutup. Para pemilik toko di ibukota menggelar aksi mogok untuk memprotes pembantaian warga sipil di desa Houla, yang diduga dilakukan oleh milisi propemerintah.

"Ketika para pedagang di Hamidiya - pasar utama - mogok, artinya Anda tahu Anda sudah kehilangan hati nurani dan jantung Damaskus," tulis Joshua Landis, pakar Suriah dan direktur Center for Middle East Studies di Univesity of Oklahoma.

"Kaum borjuis Sunni sudah berpaling dari rezim (Assad)," tegas Landis.

"Ini menjadi pertanda sangat kuat yang mengisyaratkan bahwa persekutuan historis antara rezim dengan para pebisnis di ibukota, paling tidak, sudah patah sebagian," tukas Harling.

Harling memberi contoh, pada puncak penumpasan berdarah pemerintah terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin pada 1982, yagn dilakukan Hafez al-Assad, ayah presiden saat ini, berhasil mencegah para pedagang Damaskus melakukan aksi mogok.

Beberapa hari setelah mogok pasar di Damaskus bulan lalu, para pemilik toko di sebagian distrik perdagangan Aleppo melakukan hal serupa, namun skalanya lebih kecil.

"Saya tidak membuka toko. Semua wilayah pinggiran kota Aleppo mogok hari ini (setelah) yang terjadi di Houla," kata seorang pemilik toko di Aleppo yang mengaku bernama Abu Karim dalam wawancara telepon dengan CNN.

"Kami membawa tanggung jawab untuk terus bekerja sementara orang-orang tewas. Kami malu," imbuhnya.

Dalam beberapa kasus, aparat keamanan Suriah menyerang aksi protes para pebisnis itu. Seorang aktivis menunjukkan video yang menunjukkan sejumlah orang berseragam menggunakan alat-alat untuk membuka paksa pintu-pintu toko yang tutup di Damaskus.

Kekerasan yang terus terjadi, ditambah sanksi yang diterapkan oleh negara-negara Barat, mulai menyulitkan warga Suriah.

Lebih dari sepuluh warga Damaskus dan Aleppo yang diwawancarai oleh CNN mengeluhkan matinya listrik tiap hari dan kenaikan harga keperluan pokok seperti gula dan minyak goreng.

"Mereka mematikan aliran listrik selama dua jam setiap pagi dan tentu saja pengaruhnya pada pekerjaan cukup besar karena seluruh perusahaan ini menggunakan komputer," kata seorang CEO perusahaan media yang berpusat di Damaskus kepada CNN.

Dia mengaku sudah menugasi salah satu karyawannya untuk membeli cukup banyak solar untuk menyalakan generator. Namun hal itu menimbulkan kesulitan baru karena melonjaknya harga bahan bakar minyak.

"Dengan sanksi ekonomi terhadap negara kami, sulit bagi kami untuk terus memberi pelayanan karena transaksi keuangan tidak bisa sampai ke kami dari klien asing," lanjut CEO yang tidak mau namanya disebut karena takut nyawanya dalam bahaya.

"Akibat listrik mati, sebuah bahan stok bahan makanan di dalam lemari pendingin dan pembeku rusak," kata Usama, seorang pemilik toko di Damaskus. Kepada CNN, Usama mengaku akhirnya memutuskan untuk menutup usahanya.

"Apa gunanya memiliki toko jika tidak ada yang membeli dan orang-orang tidak punya uang untuk dibelanjakan, dan jika mereka hanya berbelanja kebutuhan yang paling pokok saja," ujarnya.

Di saat perekonomian yang memburuk itu, kehadiran aparat keamanan di kedua kota besar itu diperkuat. Sebuah video yang dirilis oposisi menunjukkan truk-truk militer dan ratusan tentara menggunakan stadion olahraga utama di Damaskus sebagai markas.

"Sangat berbeda ketika saya di sini enam bulan lalu," Deborah Amos, koresponden untuk National Public Radio (NPR), AS, melaporkan dari Damaskus, Sabtu (9/6/2012).

"Waktu itu kota ini hidup. Orang-orang keluar pada malam hari. Mereka nongkrong di kafe dan restoran. Sekarang, di malam hari, orang-orang pulang, dan waktunya tentara mengambil alih," Amos melaporkan.

Para pengamat berpendapat keputusan Presiden Assad untuk menggunakan kekuatan militer berlebihan terhadap kota-kota kedua seperti Homs hanya akan melebarkan jangkauan gerilyawan ke kota-kota yang menjadi benteng dukungan pemerintah.

"Rezim itu seperti menabur gigi naga," tulis Joshua Landis. "Untuk satu pemberontak yang tewas, sejumlah orang muncul menggantikannya."

Sejauh ini, kekuasaan Assad masih kuat. Assad masih memiliki pendukung setia dan senjata yang lebih kuat dibandingkan para pemberontak. Namun citra bahwa pemerintah masih memegang kendali sudah mulai ternoda.


Editor : Kistyarini
Sumber: