Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Internasional

Mesin Pembunuh Canggih Paman Sam

Sabtu, 9 Juni 2012 | 08:11 WIB

KOMPAS.com — Serangan mesin perang tercanggih yang dimiliki Amerika Serikat, pesawat tak berawak yang dilengkapi berbagai senjata mematikan, populer disebut drones, kembali memakan korban. Kali ini korbannya komandan operasi tertinggi kedua organisasi teroris global Al Qaeda, Abu Yahya al-Libi, yang diklaim terbunuh dalam serangan drones di Pakistan.

Pihak Paman Sam mengklaim hal itu sebagai keberhasilan sekaligus hantaman terkeras bagi kekuatan Al Qaeda. Namun, kejadian tadi kembali memicu perdebatan soal penggunaan teknologi mesin perang canggih itu. Perdebatan muncul setelah salah seorang kerabat Al-Libi memprotesnya.

”Terlepas dari apa pun ideologi dan kepercayaan yang dianut saudara saya, dia tetap seorang manusia yang layak diperlakukan manusiawi. Cara AS membunuhnya sangat kejam dan tak berperikemanusiaan,” ujar Abu Bakr al-Qayed.

Al-Qayed berbicara per telepon dari kota Wadi Otba, yang terletak di selatan Tripoli, Libya, awal pekan ini. Dia menilai apa yang dilakukan AS kepada saudaranya bertentangan dengan klaim negeri itu sebagai ”jagoan” penegakan hak asasi manusia. ”Mereka (AS) bicara soal HAM dan kebebasan, tetapi metode yang mereka pakai untuk membunuh sangat biadab. Kita berada di abad ke-21 dan mereka mengklaim diri beradab, tetapi coba lihat cara mereka membunuh orang,” ujar Al-Qayed.

Penggunaan drones sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden George W Bush. Intensitasnya memang meningkat di era Presiden Barack Obama. Awalnya drones hanya dipakai untuk misi mata-mata dan penginderaan jarak jauh dinas intelijen AS, CIA. Pesawat drones bisa diterbangkan 24 jam tanpa henti. Namun, sejak tahun 2002 drones dipersenjatai, mulai dari rudal Hellfire II dengan radius daya jangkau serangan delapan kilometer, atau bom jatuh (dropped bomb) macam Paveway II dan GBU-12.

Selama ini Pemerintah AS mengklaim tak ada aturan internasional yang dilanggar. Sebagai pesawat mata-mata, drones bisa memberi gambaran pantauan lengkap situasi lapangan, yang langsung dikirim via satelit ke pasukan darat AS. Penggunaannya juga diklaim mengurangi risiko kehilangan pilot pesawat tempur. Pesawat drones bisa diterbangkan dan dikendalikan dari jarak ribuan kilometer.

Dua jenis drones yang populer digunakan di Afganistan dan Pakistan, MQ-1B Predator dan MQ-9 Reaper, dikendalikan dan diterbangkan dari pangkalan udara Creech di Nevada, AS.

Namun, serangan drones selain untuk membunuh target juga kerap membunuh warga sipil. Salah satu serangan mematikan terjadi pada Maret 2011, ketika sebuah pertemuan antarsuku di Pakistan diserang dan 40 orang sipil terbunuh. Dari situ terlihat ada kemiripan antara kelompok teroris dan AS. Keduanya sama-sama membunuh warga sipil dengan mengatasnamakan kebenaran versi masing-masing. (BBC/REUTERS/DWA)


Editor : Kistyarini
Sumber: