Jumat, 18 April 2014

News / Internasional

Kisah Keluarga Fawzia

Jumat, 1 Juni 2012 | 06:58 WIB

Baca juga

Oleh: Trias Kuncahyono

KOMPAS.com - Fawzia, ibu empat putri, terbaring pingsan. Tangannya luka, ditembak. Orang-orang bersenjata yang masuk ke rumahnya tanpa pandang bulu menembak siapa saja yang ditemui. Namun, mereka tidak menghabisi hidup Fawzia. Ketika pada akhirnya Fawzia siuman, ia menemukan keadaan sekitarnya begitu mengerikan.

”Ketika saya siuman, melihat sekitar, jantung ini rasanya berhenti berdenyut. Saya lihat putri-putri saya sudah tak bernyawa. Salah seorang di antaranya tangannya dipotong. Sepupu saya dan empat anak lelakinya juga dibunuh. Adik perempuan saya dan bayinya yang baru berusia enam pekan dibunuh juga,” tutur Fawzia terbata-bata menahan tangis lewat telepon kepada The Daily Telegraph, hari Senin (29/5/2012) lalu.

Keluarga Fawzia tinggal di desa Toula, wilayah Houla, Provinsi Homs, Suriah bagian barat. Homs terletak sekitar 162 kilometer sebelah utara Damaskus, ibu kota Suriah. Toula menjadi sasaran amuk tentara Suriah dan milisi bersenjata karena diyakini menjadi basis perlawanan terhadap pemerintah.

Menurut berita yang tersiar, 108 orang tewas dibunuh dengan berbagai cara, ada yang ditembak jarak dekat, ada yang menjadi korban terjangan tembakan artileri. Dari jumlah korban, 49 di antaranya adalah anak-anak dan 34 perempuan.

Pemerintah Damaskus menuding pembantaian itu dilakukan teroris, sementara oposisi dan dunia internasional menuding tentara pemerintah dan milisi Shabbiha—berasal dari bahasa Arab, shabah, yang berarti hantu—pimpinan sepupu Presiden Bashar al-Assad.

Pembantaian di Toula itulah yang mendorong belasan negara mengusir dubes dan diplomat senior Suriah; mereka mendesak DK PBB untuk menindak Suriah; bahkan Perancis, misalnya, tidak mengesampingkan dilancarkannya aksi militer.

Apakah aksi militer menyelesaikan masalah? Tetapi, kalau tidak dengan tindakan militer, cara apa lagi yang bisa memaksa Bashar menarik pasukannya dari daerah konflik dan melakukan perubahan demokratis, menghapus ketidakadilan? Usaha mantan Sekjen PBB Kofi Annan yang jadi utusan PBB dan Liga Arab untuk membujuk Bashar pun hingga kini belum berhasil.

Mengapa juga Bashar membiarkan tentaranya dan Shabbiha bertindak tanpa mengenal rasa kemanusiaan? Apa demi kekuasaan? Apa karena masih didukung Rusia dan China? Jatuhnya Bashar memang, dikhawatirkan akan memicu perang saudara yang lebih parah: akan terjadi gelombang balas dendam dari kaum Sunni terhadap minoritas Alawite (atau disebut Nusairian, ajaran yang disebarkan oleh Muhammad Ibn Nusair yang wafat tahun 883) yang kini memegang posisi kunci di pemerintahan dan militer dalam rezim Bashar. Ada kekhawatiran jatuhnya Bashar juga akan mengancam kaum minoritas selain Alawite, seperti Maronit, Ortodoks Yunani, dan Armenia.

Inilah titik kritis Suriah. Masa depan Suriah sangat ditentukan pilihan apa yang diambil Bashar. Apakah dia tetap ngotot mempertahankan kekuasaan, menutup mata terhadap keadaan sekitar, atau mundur atau melakukan reformasi politik?

Tetapi, benar pertanyaan Fawzia, ”Apa dosa dan salah bayi usia enam minggu itu? Mengapa ia juga dibunuh?”

 


Editor : Kistyarini
Sumber: