Selasa, 25 November 2014

News / Regional

Usaha Kecil dan menengah

Kerupuk Rambak Potret Ekonomi Rakyat

Senin, 14 Mei 2012 | 18:56 WIB

KOMPAS.com - Tangan ibu-ibu rumah tangga itu terlihat cekatan menggunting dan memotong lembaran kulit sapi, yang hendak dimasak untuk bahan baku krupuk rambak.

 

Sembari duduk di lantai, kaum ibu yang sehari-hari mengais rezeki sebagai tenaga kerja penggunting/pemotong kulit sapi untuk bahan baku pembuatan kerupuk rambak, itu sesekali tampak bergurau sesama rekannya.

Kini, tidak kurang terdapat 39 perajin UKM kerupuk rambak di Desa Kauman, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang sampai sekarang ini terus menggeliat sebagai potret kekuatan ekonomi rakyat.

Tak hanya pemilik usaha kerupuk rambak yang menikmati berkah, tapi juga warga sekitar yang menjadi tenaga kerja pada UKM itu.

"Alhamdulillah, sampai sekarang ini lancar-lancar saja, dan yang terpenting bisa mempekerjakan pegawai, apalagi mereka sudah berkeluarga," kata Nurul Habibah (37), perajin ke rupuk rambak Afi Perkasa, di Desa Kauman.

Nurul merasa beruntung, usaha kerupuk rambak yang digeluti bersama suaminya berkembang pesat. Kini ia mampu mempekerjakan 23 pegawai, terdiri atas 11 tenaga kerja laki-laki dan 12 tenaga kerja perempuan.

Usahanya itupun memberikan sumber penghasilan dan penghidupan kepada orang lain, khususnya warga Kauman.  

"Awalnya, usaha ini kami kerjakan berdua dengan suami dibantu dengan adik. Alhamdulillah, saat krismon (krisis moneter) tahun 1997, kami dapat berkah pesanan ke rupuk rambak dari Jakarta sebanyak satu ton dengan harga per kilonya Rp 25.000," katanya.

Rata-rata per minggu produksi kerupuk rambak yang dihasilkan Afi Perkasa yang dimiliki Nurul Habibah dan Syaiful Fuad itu  mencapai delapan kuintal hingga satu ton kerupuk siap goreng.

Jika sedang ramai pesanan dalam bulan Mei hingga puasa, rata-rata per hari bisa mencapai satu ton kerupuk rambak.

Pasarnya tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga sampai Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. "Bahkan, ada pelanggan saya dari Surabaya yang minta kiriman satu minggunya satu ton. Katanya untuk dikirim ke Arab Saudi," kata Nurul.

Harga kerupuk rambak kulit sapi siap goreng yang dihasilkan pasangan suami-istri asal Kauman itu, harganya bervariasi dan tergantung mutu dan kualitasnya.

Harga kkerupuk rambak kualitas nomor satu Rp 52.000 per kg, kualitas nomor dua Rp 50.000 per kg, dan kualitas nomor tiga Rp 49.000 kg.

"Masalah cita rasa kerupuk rambak antara perajin satu dengan yang lain bisa berbeda, karena sangat tergantung hasil penggorengan akhir dalam pembuatan kerupuk rambak," kata Syaiful Fuad.

Desa Kauman  amat populer dengan sebutan kampung penghasil kerupuk rambak Bangsal. Dari tangan-tangan perajin kerupuk rambak inilah Bangsal pun identik dengan kerupuk rambak.  

"Orang memang mengenal kerupuk rambak Bangsal, tetapi aslinya kerupuk rambak dari desa Kauman ini," kata Firman (20), perajin kerupuk rambak Rahayu di Desa Kauman.

Ongkos tenaga kerja penggorengan Rp 35.000-Rp 40.000 per hari, tenaga kerja pengguntingan/pemotongan kulit rambak Rp 25.000-Rp 50.000  per hari, tenaga penjemuran Rp 15.000 per hari, dan tenaga pengemasan Rp 12.000-Rp 15.000 per hari.

"Kendala yang dihadapi pelaku usaha kecil kerupuk rambak lebih pada cuaca . Kalau cuacanya mendung dan hujan, pengaruhnya pada penurunan produksi," kata Firman.

Bahan baku kulit sapi untuk kerupuk rambak, kata Firman, sejauh ini tidak ada persoalan yang berarti. Pasokan bahan baku masih lancar.

"Suplai bahan baku tidak ada masalah. Umumnya perajin di Kauman dapat pasokan bahan baku dari Mojoanyar, Purwosari, Magetan dan Surabaya," katanya.

Proses pembuatan kerupuk rambak, tidak gampang. Sebelum diproses menjadi bahan baku kerupuk rambak siap goreng, terlebih dahulu lembaran kulit sapi (ukuran 1 meter hingga 1,5 meter) harus direndam dengan air bercampur gamping selama dua hari di dalam kolam kecil.

Setelah itu dicuci dengan air bersih, hingga tidak berbau gamping. Selanjutnya, direbus di wajan besar hingga 7 jam. Selepas itu, dicuci dengan air bersih hingga dingin dan baru dijemur.

"Proses penjemurannya tidak boleh sampai kering dan keras. Setelah dijemur, lalu digunting-gunting dan dipotong-potong menjadi stik kecil-kecil atau kotak-kotak kecil," kata Firman.

UKM kerupuk rambak kulit sapi yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi rakyat, setidaknya mengisyaratkan realitas berkurangnya pengangguran di pedesaan. "Yang pasti mengurangi pengangguran," kata Firman.

Adapun UKM Rayahu sendiri mempekerjakan tidak kur ang tujuh karyawan dengan hasil produksi kerupuk rambak sia p gore ng per bulannya rata-rata 2,1 ton.  

"Kadang bisa lebih kalau banyak pesanan," ujar Firman. (ABDUL LATHIEF)


Penulis: Abdul Lathif
Editor : Agus Mulyadi