Sabtu, 29 November 2014

News / Internasional

Tragedi 911

Terdakwa 11 September Tak Hiraukan Persidangan

Minggu, 6 Mei 2012 | 11:37 WIB

GUANTANAMO BAY, KOMPAS.com Persidangan terhadap para pelaku serangan 11 September 2001 atau biasa disebut 911 berlangsung gaduh. Lima terdakwa utama mengabaikan proses persidangan dan sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Hal seperti itu berlangsung terus hingga sidang ditutup pada Sabtu larut malam hari di Teluk Guantanamo, Kuba. Teluk ini adalah wilayah Kuba, tetapi secara de facto dikuasai AS. Di lokasi ini terdapat juga pangkalan Angkatan Laut AS sekaligus lokasi pengadilan militer AS.

Dalam persidangan itu, para terdakwa mengabaikan penjelasan para hakim. Mereka juga tidak mau mendengarkan terjemahan persidangan ke dalam bahasa Arab. Mereka ini adalah tersangka pelaku serangan pada 11 September 2001 di AS.

Khalid Sheikh Mohammed, yang telah mengaku sendiri sebagai pelaku serangan di World Trade Center New York dan Pentagon, juga bungkam selama persidangan. Serangan pada 11 September 2001 ini menewaskan 2.976 orang.

Selama persidangan, Mohammed mematikan alat pendengar dan juga menolak menjawab pertanyaan hakim Kolonel James Pohl. Dia juga menolak menjawab apakah mengerti apa yang sedang dibicarakan di persidangan. Sebagian lagi sibuk membaca-baca majalah The Economist sepanjang persidangan.

Walid bin Attash sempat disetrap di kursi dan baru dilepas saat dia berjanji tidak lagi bikin kegaduhan. Ramzi Binalshibh mulai sembahyang di meja dekat dia duduk, diikuti oleh Ali Abd al-Aziz Ali, saat proses persidangan.

Binalshibh juga berteriak dengan mengatakan bahwa seorang penjaga penjara berperilaku sama dengan almarhum pemimpin Libya, Moammar Khadafy, dan menyatakan bahwa dia sedang dalam bahaya.

"Mungkin saja mereka akan membunuh saya, tetapi kemudian dibikin pernyataan bahwa sayalah yang bunuh diri," katanya.

David Nevin, pengacara para terdakwa, juga menghabiskan waktu berjam-jam dengan mempertanyakan kelayakan para hakim yang terlibat persidangan. Dia juga mengatakan bahwa para terdakwa telah diperlakukan tidak manusiawi.

Nevin menambahkan bahwa kliennya tidak akan mau menjawab jika mendapatkan perlakukan buruk.


Penulis: Simon Saragih
Editor : Marcus Suprihadi
Sumber: