Kamis, 23 Oktober 2014

News / Internasional

Sekjen PBB Temui Aung San Suu Kyi

Selasa, 1 Mei 2012 | 15:45 WIB

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menemui pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi untuk pertama kalinya.

Pertemuan ini berlangsung sehari setelah Suu Kyi, yang menang dalam pemilihan umum sela sebulan lalu, setuju untuk mengambil sumpah meski ada sengketa kata dalam sumpah jabatan.

Suu Kyi dan 42 anggota Partai Liga Nasional Demokrasi, NLD yang menang dalam pemilu sela 1 April lalu akan diambil sumpah Rabu (2/5/2012).

Pekan lalu NLD sempat menyatakan tidak akan ikut dalam upacara sumpah jabatan kecuali ada perubahan kata dalam sumpah dari ''mengamankan" menjadi "menghormati" undang-undang dasar yang disusun oleh pemerintahan militer terdahulu.

Dokumen yang dibuat junta militer dan mengabadikan peran angkatan bersenjata dalam politik ini akan terus menjadi fokus pertempuran politik di Myanmar, demikian laporan wartawan BBC Rachel Harvey di Nay Pyi Taw.

Transisi politik

Ban berada di Myanmar dalam kunjungan tiga hari untuk mendorong reformasi yang lebih demokratis.

Senin (30/4/2012) kemarin Ban Ki-moon menjadi orang asing pertama yang memberikan pidato di parlemen Myanmar.

Ban, bertemu Suu Kyi di kediamannya di Ranggon mengatakan bahwa Suu Kyi menerima undangan untuk mengunjungi markas besar PBB di New York.

Berbicara menjelang pertemuan dengan peraih penghargaan Nobel Perdamaian tersebut Ban mengatakan dia menyambut dan menghormati keputusannya untuk berkompromi demi kepentingan yang lebih besar.

Sebelumnya Sekjen PBB di hadapan parlemen meminta keringanan sanksi lainnya di Myanmar.

Dia mengatakan bahwa dia memuji upaya reformasi meski perubahan ini masih dianggap rentan dan perlu dipelihara.

Ban juga menggelar pertemuan dengan Presiden Thein Sein, seorang mantan tokoh militer yang mengantarkan serangkaian reformasi sejak dia menjabat presiden tahun lalu.

Sekjen PBB terakhir kali mengunjungi Myanmar pada tahun 2009 atas undangan mantan pemimpin junta militer Jenderal Than Swe, tetapi menggambarkan kunjungannya itu sebagai ''misi yang sangat sulit''.

Saat itu dia menolak mengunjungi Suu Kyi yang masih dalam tahanan rumah.


Editor : Kistyarini
Sumber: