Selasa, 23 Desember 2014

News / Internasional

Riyadh dan Kairo

Selasa, 1 Mei 2012 | 08:28 WIB
Oleh: Trias Kuncahyono


Ahmed al-Gizawi alias Ahmed Mohammed Tharwat al-Sayyid, begitu dia dikenal. Aktivis dan pengacara hak-hak asasi manusia asal Mesir ini menjadi berita. Ia tidak hanya menjadi berita, bahkan. Ia menjadi pemicu ketegangan hubungan antara Arab Saudi dan Mesir, sampai-sampai Arab Saudi menarik duta besarnya untuk Mesir dan menutup konsulatnya di Aleksandria, Mesir.

Menurut berita yang tersiar di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, 17 April lalu, begitu Al-Gizawi mendarat di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, ia ditangkap aparat keamanan. Ia tertangkap basah membawa 20.000 butir Xanax, pil antidepresi, dalam kopernya. Gara-gara ditemukan membawa pil, aparat keamanan tidak percaya bahwa Al-Gizawi ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah umrah.

Akan tetapi, menurut kelompok pembela hak asasi manusia dan keluarganya di Mesir, Al-Gizawi ditangkap karena dituduh telah menghina monarki yang berkuasa di Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi membantah pernyataan itu. Penahanan Al-Gizawi memancing demonstrasi besar-besaran di Kairo. Kedutaan Besar Arab Saudi di Kairo didemo pada 27 April lalu.

Demo itulah yang menjadi penyebab Riyadh menarik duta besarnya. Inilah hubungan terburuk antara kedua negara sejak putusnya hubungan diplomatik tahun 1979, setelah Mesir menandatangani Perjanjian Perdamaian Camp David dengan Israel. Hubungan kedua negara dipulihkan kembali pada tahun 1987.

Kalau sekarang hubungan kedua negara memburuk lagi, inilah ”hasil” revolusi Mesir. Mengapa? Selama 30 tahun Hosni Mubarak berkuasa di Mesir, kedua negara yang sama-sama sekutu Barat itu memiliki hubungan yang demikian baik. Barat, terutama AS, mampu menggunakan kedua negara untuk tujuan strategis di Timur Tengah.

Arab Saudi menampilkan diri sebagai negara Arab konservatif, sedangkan Mesir sebagai cerminan Arab modern. Namun, kedua negara bisa bersatu, antara lain bersama-sama menghadapi Iran yang ingin menguasai panggung Timur Tengah. Keduanya juga mendorong proses perdamaian Palestina-Israel.

Namun, setelah revolusi, ada isyarat Kairo ingin memperbaiki hubungan dengan Teheran yang putus sejak tahun 1979. Tentu, Riyadh tidak senang itu. Iran, salah satu pemain besar di kawasan, adalah musuh Mubarak, Arab Saudi, negara-negara Teluk, dan negara-negara pro-AS di Timur Tengah. Tentu, pesan dari Riyadh kepada Kairo sangat jelas: bila ingin berhubungan baik dengan Teheran, pasti tidak akan ada hubungan yang sama baiknya dengan Riyadh.

Arab Saudi melihat cemas revolusi dan hasil revolusi di Mesir. Ada kekhawatiran apa yang terjadi di Mesir bisa menular ke Arab Saudi. Sejarah telah menceritakan, demokratisasi cenderung terjadi di kluster geografis, atau wilayah yang sama. Bahasa dan budaya bisa memainkan peran penting dalam hal ini. Kairo dan Riyadh dalam hal ini sama!


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: