Sabtu, 1 November 2014

News / Internasional

Robert Mugabe Sekarat di Singapura?

Selasa, 10 April 2012 | 11:36 WIB

HARARE, KOMPAS.com — Diktator Zimbabwe, Robert Mugabe, dilaporkan nyaris mendekati ajalnya pada Senin (9/4/2012) malam. Pria berusia 88 tahun itu, yang diyakini menderita kanker prostat, terbang ke Singapura dengan pesawat jet pribadi, Sabtu, untuk menjalani pengobatan.

Istrinya, Grace, dan anggota keluarga dekat dilaporkan berada di samping tempat tidurnya. Mugabe telah menjalani serangkaian terapi di Asia dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kondisinya kini memburuk dan ada klaim semalam bahwa ia telah setuju untuk menyerahkan kekuasaan kepada pengikutnya sekaligus menteri pertahanan, yaitu Emmerson Mnangagwa.

Rumor terkait kesehatan Mugabe menyebar luas dalam beberapa pekan terakhir karena penampilannya yang rapuh. Ada spekulasi yang meningkat kemarin ketika Pemerintah Zimbabwe menunda rapat kabinet pada menit-menit terakhir.

Harian Zimbabwe Mail, yang mengutip seorang pejabat senior Partai ZANU-PF pimpinan Mugabe, mengatakan bahwa sang tiran, yang telah memerintah negara itu sejak kemerdekaannya dari Inggris tahun 1980, sedang menjalani perawatan intensif di Asia. Mugabe diduga berada di Singapura untuk mengawasi pendaftaran putrinya, Bona, masuk universitas. Namun, pendaftaran belum akan dimulai hingga September dan para lawan politiknya mengatakan, tidak mungkin Mugabe bepergian ke luar negeri untuk mengurus masalah seperti itu secara pribadi.

Sumber-sumber di Iran, yang memiliki hubungan hangat dengan Zimbabwe, mengatakan bahwa Mugabe telah menyetujui penggantinya. Tehran Times mengatakan, tiran itu telah menandatangani "kesepakatan" untuk menyerahkan kekuasaan kepada Mnangagwa (65), yang membantu mengatur perlawanan terhadap Inggris pada tahun 1970-an.

Mantan kepala intelijen Zimbabwe itu juga secara luas dipersalahkan atas kebrutalan yang terjadi menyusul pemilihan presiden pada 2008 setelah saingan Mugabe, Morgan Tsvangirai, segera memimpin dalam pemungutan suara. Dia juga diduga telah memainkan peran utama dalam aksi kekerasan terhadap partai oposisi Zapu pada tahun 1980 yang menewaskan ribuan warga sipil.

Senin malam, tidak ada komentar tentang kesehatan Mugabe, baik dari keluarganya maupun dari Pemerintah Zimbabwe. Para pembantu Mugabe membantah adanya keadaan darurat medis. Sebaliknya, mereka mengaku bahwa Mugabe tengah menikmati libur Paskah di Asia bersama keluarganya.

Namun, Wakil Presiden Zimbabwe Joice Mujuru dilaporkan telah memperpendek perjalanannya ke Asia untuk kembali ke rumah dan mempersiapkan kemungkinan kematian Mugabe. Tiran itu diketahui telah melakukan perjalanan ke Singapura delapan kali tahun lalu untuk perawatan medis. Sebuah kawat diplomatik yang dirilis tahun lalu oleh Wikileaks mengatakan, Mugabe didiagnosis mengidap kanker prostat tahun 2008 dan harapan hidupnya tinggal lima tahun karena penyakit itu telah menyebar.

Mugabe dipuji sebagai pahlawan oleh banyak orang Afrika ketika mulai berkuasa 32 tahun yang lalu. Zimbabwe pun dipandang sebagai model keberhasilan transisi dari pemerintahan kulit putih ke kulit hitam. Namun, nasib bangsa telah jatuh bersama-sama dengan reputasi Mugabe. Dia sekarang dianggap sebagai salah satu pelaku kejahatan hak asasi manusia di dunia. Dia dituduh telah membunuh ribuan warganya dan secara brutal menghancurkan semua oposisi terhadap pemerintahannya. Kebijakan-kebijakannya juga telah disalahkan dalam menjerumuskan Zimbabwe ke dalam kebangkrutan.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: