Sabtu, 20 Desember 2014

News / Internasional

Museum Stalin di Georgia Kini Sajikan Kekejaman Stalin

Senin, 9 April 2012 | 23:16 WIB

GORI, KOMPAS.com — Museum yang dibuat sejak tahun 1937 di Gori, Georgia, untuk menghormati pemimpin Uni Soviet, Josef Stalin, mengalami perubahan. Kalau sebelumnya menyajikan kehebatan Stalin, museum itu kini menyajikan kekejaman yang dilakukan diktator Soviet itu selama berkuasa.

Menteri Kebudayaan Georgia, Nika Rurua, Senin (9/4/2012), sebagaimana dilaporkan kantor berita AP, mengatakan, negaranya sejak bebas dari Uni Soviet tahun 1991 tidak bisa lagi menjadi tempat bagi sebuah museum yang "memuliakan diktaktor Soviet itu".

Stalin lahir dengan nama Josef Dzhugashvili di kota Gori, di wilayah tengah Georgia tahun 1989. Museum ini dibuka tahun 1939 di tengah kehebatan pemimpin Uni Soviet itu.

Namun, Stalin belakangan dijuluki "Teror Besar" karena menyebarkan aksi pembunuhan di negara itu terhadap para warga Uni Soviet yang menentang ajarannya.

Museum raksasa, termasuk rumah kelahiran Stalin, itu memuat sekitar 47.000 benda yang disajikan, termasuk barang-barang miliknya, misalnya masker kematian.

Stalin yang meninggal dunia tahun 1953 belakangan ini menimbulkan pro dan kontra di Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet, berkaitan saat dia berkuasa.

Sebagian warga menilai, Stalin adalah pahlawan besar yang membawa Uni Soviet meraih kemenangan dalam Perang Dunia II. Stalin juga berhasil membawa militer Uni Soviet tumbuh besar dan menjadi salah satu kekuatan superpower dunia, bersaing dengan Amerika Serikat. Persaingan ini membawa dunia dalam Perang Dingin.

Namun, bagi sebagian warga Rusia yang mencintai hak asasi manusia, Stalin dinilai sebagai diktator yang bertanggung jawab atas kematian ratusan ribu warga Soviet selama dia berkuasa.

Stalin bertanggung jawab atas kematian langsung sedikitnya 724.000 orang. Dia juga bertanggung jawab atas kematian jutaan orang lainnya yang dipaksa dikirim ke kamp kerja paksa di Gulags, sistem penjara di era Uni Soviet.


Penulis: Pieter P Gero
Editor : Agus Mulyadi