Senin, 22 Desember 2014

News / Internasional

Dua Juta Orang Lari dari Dunia Arab ke Eropa

Selasa, 27 Maret 2012 | 10:05 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Para pencari suaka dari negara-negara yang terlanda Revolusi Arab (Arab Spring) dan bangsa-bangsa Afrika Barat yang menderita perang saudara melonjak tajam ke Eropa tahun lalu. Demikian menurut data-data terbaru sperti dikutip Mail Online, Senin (26/3/2012).

Brookings Institution, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington, mengatakan hampir dua juta orang telah meninggalkan rumah mereka dalam setahun terakhir sebagai dampak dari gejolak Arab Spring di Afrika Utara dan Timur Tengah.  Menurut lembaga itu, kelompok terbesar migran yang menuju Eropa selama tiga tahun berturut-turut berasal dari Afganistan.

Sejauh ini, Arab Spring telah menumbangkan para penguasa di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman dan pemberontakan sipil masih meletus di Bahrain, Suriah, Aljazair, Irak, Yordania, Kuwait, Maroko dan Oman.

Euro-stat, badan statistik Uni Eropa, mengatakan bahwa permohonan suaka dari Tunisia naik hampir 12 kali lipat dari hanya 540 pada 2010 menjadi 6.330 pada 2011.

Ribuan migran telah membanjiri Lampedusa, pulau kecil di selatan Sisilia, Italia, setelah Presiden Zine El Abidine Ben Ali jatuh, kemudian melarikan diri ke Arab Saudi pada Januari tahun lalu. Bulan berikutnya, yaitu Februari, Presiden Mesir Hosni Mubarak juga mengundurkan diri setelah 18 hari protes yang berpusat di Tahir Square di Kairo.

Permohonan suaka dari Libya meningkat hingga empat kali lipat, dari 710 menjadi 2.885 antara tahun 2010 dan 2011, ketika negara itu jatuh ke dalam perang saudara. Pemimpin Libya Moammar Khadafy digulingkan pada Agustus dan terbunuh dua bulan kemudian.

Mereka yang melarikan diri Suriah dan rezim Presiden Bashar al-Assad juga meningkat lebih dari 50 persen, meskipun pertempuran di sana baru meningkat pada akhir tahun.

Permohonan suaka dari Nigeria, di mana warga yang marah atas kenaikan harga BBM melakukan protes dan karena ada kekerasan oleh pemberontak Islam, melonjak hampir dua kali lipat dari 6.750 pada 2010 menjadi 11.470 pada 2011.

Mereka yang tiba dari Pantai Gading, yang mengalami perang saudara setelah pemilu yang dipersengketakan, juga naik menjadi 5.320 orang dari 1.495 pada 2010.
          
Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, yang bertarung untuk terpilih kembali, berjanji akan menarik keluar Perancis dari zona perbatasan terbuka Schengen kecuali ada kemajuan dalam memperketat perbatasan Eropa. Austria dan Jerman mengancam akan menerapkan lagi kontrol perbatasan di zona Schengen jika negara-negara seperti Yunani tidak membendung gelombang imigran yang meningkat yang menyeberangi Laut Aegea dari Turki.

Pada September tahun lalu, Komisi Eropa telah mengusulkan undang-undang yang memungkinkan pemerintah secara temporer menerapkan lagi kontrol perbatasan jika mereka dapat menunjukkan bahwa negara tetangga telah berulang kali gagal mengatasi para imigrasi ilegal.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: