Senin, 1 September 2014

News / Internasional

Kisah Cinta di Titanic Benar-benar Ada

Minggu, 25 Maret 2012 | 14:52 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Ingatkah Anda pada kisah cinta Rose DeWitt Bukater dan Jack Dawson dalam film Titanic? Cerita asmara seperti itu ternyata benar-benar terjadi dalam kapal yang akhirnya menabrak es dan tenggelam pada 15 April 1912 tersebut.

Sedikit berbeda dari kisah Rose (Kate Winslet) dan Jack (Leonardo DiCaprio) yang diceritakan sutradara James Cameron pada 1997, kisah nyata pada seratus tahun silam dirasakan oleh seorang janda bernama Helen Churchill Candee. Helen adalah seorang wanita cantik dan pemberani asal New York. Bisa dibilang Helen menjadi wanita yang keluar dari zamannya waktu itu.

Di usianya yang ke-53 saat itu, Helen hidup bersama kedua anaknya setelah ia bercerai pada 1896 dari seorang pria kaya raya. Kisah perceraiannya ini rumit. Helen dikabarkan pernah menyewa detektif swasta untuk memata-matai suaminya yang diduga telah berselingkuh. Di pengadilan New York, gugatan cerainya tak dikabulkan karena kurang bukti. Helen tak menyerah, ia kembali ke Oklahoma dan akhirnya berhasil memutuskan hubungan selama 15 tahun antara ia dan suaminya dengan tuduhan suaminya telah bertindak kasar dan mabuk berat.

Setelah berpisah, Helen menjalani hari-harinya bersama anak-anaknya secara mandiri. Untuk menghidupi keluarganya, ia bekerja sebagai penulis lepas. Ia pernah menulis artikel "How Women May Earn a Living" yang begitu tenar pada 1900. Dia juga membuat sebuah novel berjudul "An Oklahoma Romance" dan menjadi kontributor di sejumlah majalah. Topik bahasannya tak melulu soal kewanitaan, tetapi juga soal etika bersosialisasi dan bahkan soal arsitektur.

Helen juga menekuni bidang desain interior ketika ia pindah dari New York ke Washington. Popularitas dan seleranya yang tinggi terhadap seni membuat banyak orang tertarik untuk memanfaatkan jasanya. Konon mantan Presiden AS Theodore Roosevelt dan arsitek Gedung Oval, Nathan Wyeth, pernah berkonsultasi dengannya untuk menghias sisi barat Gedung Putih. Di kemudian hari, ia juga menulis buku soal desain, dekorasi, dan permadani.

Bagaimana Helen bisa sampai ke Inggris dan naik kapal Titanic dari Southampton ke New York? Itu semua diawali dari kecintaannya terhadap petualangan ke negara-negara lain di belahan dunia. Ketika sedang dalam perjalanan ke Spanyol dan Italia, Helen mendengar kabar bahwa putranya, Harold, mengalami kecelakaan kereta. Tanpa pikir panjang, ia mencari tiket pulang menjenguk putranya. "Kalau Harry (Harold) mati, apalah artinya hidup ini?" tulisnya dalam sebuah catatan.

Maka dipilihnya kapal Titanic untuk membawanya kembali ke New York. Ia memperoleh tiket kelas utama bersama sejumlah pesohor dari AS dan Inggris, antara lain Sir Cosmo Duff Gordon, seorang bangsawan Inggris dan atlet anggar, bersama istrinya, Lucy. Di sana juga ada perancang busana ternama dari Inggris sekaligus pria terkaya di kapal itu, John Jacob Astor IV, beserta istrinya Madeleine yang berusia 19 tahun.

Disebutkan oleh Daily Mail, Helen segera terkenal dan menjadi primadona di Titanic. Wajahnya yang dingin, tapi anggun dan percaya diri, menarik pria-pria yang bepergian sendiri di kapal itu.

Di kapal itu, Helen berkenalan dengan arsitek dari AS, Edward Kent (58), dan Hugh Woolner (45), pemasok karya-karya seni asal Inggris. Keduanya pria mapan dan lajang. Dalam tulisan-tulisannya soal Titanic, Helen menyebut Kent mencoba menarik perhatiannya dengan menyuruh awak kabin memberikan puluhan majalah untuknya. "Perkenankan saya melayani Anda dengan cara apa pun yang saya bisa," tulis Helen. Bukannya tertarik, Helen menilai Kent sebagai orang yang "tidak punya kepribadian dan cuek", bahkan "pria aneh".

Helen tampaknya lebih suka kepada Woolner, yang lebih muda dari Helen. Woolner menyurati Helen dan memintanya untuk bertemu dalam sebuah pesta koktail sebelum makan siang, dua hari sebelum kapal tenggelam. Helen menyambut tawaran itu, tapi ia tidak mau terang-terangan berduaan dengan pria lain. Helen kemudian meminta kepada seorang pelayan untuk menunjukkan kepada Woolner tempat ia duduk bersama Kent di dek kapal pada keesokan harinya.

Singkat cerita, Helen bertemu dengan Woolner, tanpa Kent yang pergi tanpa alasan jelas. "Pakaian dan gayanya (Woolner) layaknya pria Inggris," tulis Helen yang terkesan oleh penampilan penggemarnya itu. Helen pun mulai tertarik kepada Woolner.

Sejak saat itu, Helen berdekatan dengan Woolner. Dalam suatu kesempatan, keduanya bertemu dengan empat pria lain pada Minggu tanggal 14 atau sehari sebelum Titanic karam. Helen tak menceritakan kisah selanjutnya bersama Woolner. Ia berusaha untuk menutupi perasaannya, termasuk ketika ia sedih membayangkan anaknya yang cedera.

Mereka berenam berkumpul setelah makan malam dalam sebuah restoran mewah di kapal tersebut. Mereka di sana hingga pengunjung lain di restoran itu beranjak pergi. Helen menyadari bahwa ia menjadi satu-satunya wanita di restoran itu. Ia pun kembali ke kamar untuk mandi.

Kemudian tibalah saat-saat menegangkan di Titanic. Para pelayan di kelas utama mengabarkan bahwa kapal telah menabrak gunung es. "Seperti menabrak puncak gunung dalam laut," kenang Helen. Woolner segera datang dan menemani Helen. "Woolner meletakkan lengannya di bahuku. Gerakan itu membuat saya merasa tidak ada jaminan keamanan."

Mereka kembali ke kamar Helen dan mengumpulkan barang bawaannya. Dalam perjalanan menuju geladak, mereka bertemu dengan Kent. Melihat begitu banyaknya bawaan Helen, Kent berkata, "Anda tidak bisa membawa seisi bagasi bersama Anda!"

Dalam tasnya, Helen membawa botol kecil dan bingkai kecil dari emas tempat ia menyimpan foto ibunya. Barang itu dititipkannya kepada Kent. Helen meminta Kent untuk merawat kedua barang berharga tersebut.

Di geladak, suasana sudah hiruk-pikuk dengan orang yang ingin menyelamatkan diri. Kapten kapal meminta wanita dan anak-anak untuk masuk ke dalam sekoci. Helen masih sempat ngobrol dengan Woolner tentang betapa terangnya bintang-bintang di langit malam itu.

Sebagaimana penumpang perempuan lain di kapal itu, Helen mendapat kesempatan untuk naik ke sekoci. Woolner berusaha menemaninya, tetapi kapten kapal menyuruhnya menjauh dari sekoci. Sekoci itu sempat bergerak menjauhi kapal dan saat itu Helen berusaha masuk ke dalam sekoci. Itu mengakibatkan engkel kakinya patah.

"Tak ada yang bicara. Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan bencana itu. Dunia sudah kiamat," sebut Helen yang kemudian juga ikut membantu mendayung sekoci.

Helen akhirnya selamat, bersama dengan Archibald Gracie, pensiunan tentara yang menjadi temannya ke mana pun ia pergi. Bjornstrom Steffansson, orang Swedia kenalan Helen di kapal itu, juga selamat. Demikian pula Woolner.

Kent tewas bersama 1.500 penumpang korban Titanic. Jasadnya ditemukan telah membeku di Samudra Atlantik. Di sakunya terdapat botol kecil dan liontin foto titipan Helen. Kedua barang itu dikembalikan kepada Helen setibanya di New York. Barang itu kemudian dilelang pada 2006, laku 58.000 poundsterling dan 30.000 poundsterling. Sejumlah barang lain milik Helen juga dilelang dan terjual seharga 47.000 poundsterling.

Helen menulis sebuah artikel tentang pengalamannya di Titanic pada majalah Collier’s Weekly di AS. Ia pernah berusaha mencari Woolner, tapi tidak ada respons.
Kisah pahit itu tak menghancurkan hidup Helen. Anaknya Harold sembuh dari cederanya. Helen juga kembali menjelajah dunia.

Selama Perang Dunia I, dia bekerja untuk Palang Merah Italia dan sempat mengobati penulis dan peraih Nobel, Ernest Hemingway. Helen juga tetap berpetualang dan pernah mampir ke Indonesia, Jepang, China, dan Kamboja.

Dia kembali menggeluti bidang yang dicintainya, desain interior dan menulis tentang jalan-jalan. Ia pernah menulis untuk National Geographic hingga umur 80 tahun. Ia meninggal dunia pada 1949 pada usia 90 dan tak menikah lagi. Wajahnya pernah digambarkan dalam film dokumenter buatan James Cameron dengan judul "Ghosts of the Abyss" yang menceritakan ekspedisi pencarian bangkai Titanic.

 


Editor : Laksono Hari W
Sumber: