Sabtu, 1 November 2014

News / Internasional

Anak Spanyol: Perangi Krisis dengan Peluk dan Cium

Sabtu, 17 Maret 2012 | 19:50 WIB

MADRID, KOMPAS.com - Anak-anak Spanyol menganjurkan pada orangtua mereka untuk mengurangi beban kerja, tersenyum lebih banyak serta berbagi peluk dan cium guna memerangi krisis ekonomi terburuk yang memukul negara itu dalam beberapa dasawarsa terakhir, kata jajak pendapat yang diterbitkan pekan ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap sekitar 1.200 anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun oleh Institut Psikologi (EOS) menunjukkan bahwa anak-anak itu percaya bahwa orangtua mereka terlihat lebih cemas, memiliki suasana hati yang buruk dan lebih sering meninggalkan rumah dibandingkan dengan sebelum krisis.

Sekitar 96 persen anak-anak yang disurvei mengatakan bahwa orangtua mereka perlu untuk meningkatkan kondisi kesehatan mereka dengan mengurangi beban kerja dan menambah jam tidur, sedangkan hampir setengahnya merekomendasikan agar mereka lebih banyak berbagi peluk, cium dan bermain dengan anak-anak mereka.

Spanyol memiliki tingkat pengangguran tertinggi di negara maju dengan hampir 23 persen dan diperkirakan telah tenggelam ke resesi kedua dalam tiga tahun terakhir.

"Kondisi fisik dan mental para orang tua itu menular ke anak-anak mereka. Orang tua yang kelelahan akan kurang antusias dan memiliki sedikit waktu untuk bermain, yang dapat ditiru oleh anak sehingga memiliki konsekuensi negatif bagi pendidikan mereka, " kata psikolog anak di EOS Francisco Rodriguez.

Sekitar 40 persen anak-anak yang disurvei mengatakan mereka mendengar kata "krisis" setiap hari dibandingkan dengan 27 persen yang mendengar kata "Messi", pemain sepak bola klub Barcelona yang terpilih sebagai pemain terbaik dunia. Sementara itu hanya 11 persen yang mendengar kata "Cristiano Ronaldo", penyerang klub sepakbola Real Madrid.


Editor : Kistyarini
Sumber: