Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 21:34 WIB
Perjanjian
China Pulangkan Pembelot Korut
Josephus Primus | Josephus Primus | Jumat, 24 Februari 2012 | 15:04 WIB
|
Share:
AFP PHOTO / KCNA VIA KNS Foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA) menunjukkan patung Kim Jong Il (kiri) berdampingan dengan patung ayah dan pendiri negara Kim Il Sung di Pyongyang, Selasa (14/2/2012). Pada Rabu (15/2/2012), pemerintah Pyongyang mengumumkan pemberian gelar tertinggi pada Kim Jong Il, yakni Jenderal besar, menjelang peringatan ke-70 hari kelahiran pemimpin yang meninggal akhir tahun lalu itu.

KOMPAS.com - Setidaknya pada akhir pekan ini, China memulangkan sembilan pembelot asal Korea Utara (Korut). Pada saat bersamaan, sebagaimana warta Yonhap pada Jumat (24/2/2012), Korea Selatan (Korsel) menekan China agar tak memulangkan para pembelot Korut ke tanah air mereka.

Seoul telah berulang kali meminta Beijing tidak melakukan hal tersebut. Sementara, telah berkembang frustrasi berkaitan kebijakan lama bahwa Beijing akan mengubah kebijakan tutup-matanya terhadap seruan-serun itu. 
   
Sekitar 30 pembelot Korut dilaporkan ditangkap oleh otoritas China bulan ini dan telah menunggu pemulangan ke Utara. "Saudara saya di Korut menelepon saya, dan mengatakan bahwa sepupu perempuan saya yang menyeberang ke China pada akhir Februari tertangkap dan dikirim kembali ke Korut," kata seorang pembelot Korut yang tak bersedia disebut namanya.
   
Dia mengatakan bersama dengan sepupunya, delapan pembelot Korut lainnya juga ditangkap oleh polisi China dan dipulangkan ke tanah air mereka.
   
Puluhan ribu pembelot Korut diyakini bersembunyi di China, berharap untuk bepergian ke Thailand atau negara Asia Tenggara lainnya sebelum menetap di Korsel, rumah bagi lebih dari 23.000 pembelot Korut.
   
Pembelot Korut menghadapi hukuman keras dan bahkan eksekusi setelah dipulangkan dari China yang tidak mengakui mereka sebagai pencari suaka, menurut pembelot di Korut dan aktivis hak asasi manusia.
   
Para aktivis di Seoul mengatakan, Korut telah memperkuat hukuman untuk para pembelot sejak pemimpin baru, Kim Jong-un, mengambil-alih kekuasaan di Pyongyang setelah kematian ayahnya, Kim Jong-il.