Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:11 WIB
Dibilang "Bodoh", PRT Indonesia Bunuh Warga Singapura
| Egidius Patnistik | Kamis, 16 Februari 2012 | 13:11 WIB
|
Share:

JITET

SINGAPURA, KOMPAS.com Seorang remaja Indonesia yang jadi pekerja rumah tangga (PRT) di Singapura menghadapi ancaman hukuman penjara sesudah mengaku bersalah telah memukul dan mencekik seorang perempuan Singapura berusia 87 tahun hingga tewas. PRT itu melakukan tindakan tersebut karena perempuan itu menyebut dia bodoh.

Menurut laporan harian Straits Times, Kamis (16/2/2012), PRT itu berinisial Vitria Depsi Wahyun dan berumur 19 tahun. Vitria berbohong tentang usianya pada tahun 2009, saat ia mengatakan telah berumur 23 tahun demi memenuhi persyaratan usia minimum untuk bekerja. Ia pun mendapatkan pekerjaan di Singapura, di tempat Sng Gek Wah.

Rabu, Vitria, yang baru kerja lima hari ketika pembunuhan itu terjadi mengaku bersalah atas pembunuhan itu dan jaksa telah menuntut hukuman penjara 20 tahun. Pengacara, yang memohon keringanan hukuman, mengatakan, Vitria berkecerdasan rendah dan tidak tahan dengan majikan yang suka menuntut, yang memanggil dia dengan sebutan-sebutan yang menyakitkan hati.

Para tetangga mengatakan kepada Straits Times bahwa Sng seorang perempuan "galak". Perempuan tua itu sering terdengar memarahi Vitria. Sejumlah harian lokal lain mengatakan, Sng telah memiliki tujuh PRT, termasuk Vitria, sejak tahun 2003.

Straits Times melaporkan, putri dan cucu perempuannya menggambarkan Sng sebagai perempuan kuat, banyak akal dan teliti serta baik hati, tetapi kadang-kadang bisa tidak sabar. Mereka memberi gambaran itu dalam sebuah pernyataan yang disampaikan ke pengadilan.

Berdasarkan hasi otopsi, nenek itu menderita patah sejumlah tulang rusuk, luka, dan memar setelah dipukul dengan vas dan dibekap dengan bantal sebelum lehernya ditekan. Putusan pengadilan atas perkara itu dijadwalkan pada 7 Maret.

Sebagai informasi, lebih dari 200.000 PRT, sebagian besar dari Filipina dan Indonesia, bekerja di Singapura.

Sumber :
AFP