AFP PHOTO/YOUTUBE
Foto yang dicuplik dari sebuah video yang diunggah di YouTubue pada Jumat (10/2/2012) yang menunjukkan sebuah tank mengeluarkan tembakan di wilayah Baba Amro di kota Homs, yang menurut para aktivis dibombardir oleh pasukan pemerintah. Tentara rezim Suriah melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Homs. Lebih dari 450 orang dilaporkan tewas akibat serangan-serangan tersebut.
JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan hak veto Rusia terhadap rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Suriah bukan sebagai bentuk dukungan kepada penguasa Suriah melainkan sebagai upaya agar hukum internasional ditegakkan, kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov di Jakarta, Selasa (14/2/2012).
Rusia menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB bukan berarti memberikan dukungan bagi penguasa Suriah, kata Ivanov kepada wartawan. "Kami meminta agar hukum internasional ditegakkan dan tidak ingin kejadian seperti di Libya terulang kembali," katanya.
Menurut dia, korban jiwa bertambah di Libya ketika Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi untuk diterapkan. "Rusia menginginkan pemerintah dan pihak oposisi yang bertikai di Suriah duduk bersama dalam meja perundingan," ujarnya.
Dikatakannya, Suriah bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa ada pihak lain yang ikut campur dalam permasalahan negara itu. "Campur tangan akan membuat kondisi negara itu semakin memburuk," kata dia.
Bahkan Rusia, lanjut dia, akan memfasilitasi jika pemerintah dan oposisi ingin melakukan perundingan. "Kami sudah menyiapkan Moskow sebagai tempat berunding kedua pihak. Hanya pemerintah dan oposisi, Rusia tidak akan ikut campur," kata Dubes Ivanov.
Rusia juga, kata dia, akan terus menekan pemerintah dan oposisi menghentikan pertikaian, demi mencegah jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak lagi.
Rusia dan China menggunakan hak veto mereka pada 4 Februari guna menggagalkan rancangan resolusi terhadap Suriah, yang didukung oleh Liga Arab serta sejumlah negara Barat.
Sedikitnya 5.400 orang dilaporkan telah tewas dalam aksi protes terhadap pemerintah Suriah yang telah berlangsung selama 11 bulan terakhir.

