Senin, 24 November 2014

News / Internasional

Pengadilan

Noriega Kembali Masuk Bui

Jumat, 10 Februari 2012 | 17:38 WIB
KOMPAS.com - Mantan Diktator Panama, Manuel Noriega, kembali ke penjara setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif selama lima hari di rumah sakit akibat tekanan darah tinggi yang dideritanya.
  
Noriega (77) dilarikan ke rumah sakit setelah pingsan di sel tahanan. Hasil tes menunjukkan Noriega tidak mengalami stroke seperti yang dokter khawatirkan. Dia mendapatkan perawatan untuk tekanan darah tinggi dan kolestrol yang dideritanya, ujar Menteri Kesehatan Panama Franklin Vergara.
  
"Kondisi mantan Jenderal Noriega saat ini stabil dan tidak membahayakan," ujar Vergara dalam pernyataannya sembari menambahkan dokter akan tetap memantau kondisi Noriega di dalam penjara.
  
Juru bicara pemerintah mengatakan Noriega telah kembali ke penjara sebagaimana warta AP dan AFP pada Jumat (10/2/2012).
  
Noriega menghabiskan waktunya selama 20 tahun dalam sel isolasi penjara Miami atas tindak kriminal yang dilakukannya selama masa pemerintahannya 1983-1989, termasuk membunuh lawan-lawan politiknya.  Noriega kemudian diekstradisi ke Perancis tempat dia dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan pencucian uang.
  
Semasa berkuasa, Noriega dikenal akan pidatonya yang berapi-api sembari mengayunkan senjata. Namun, saat kembali ke Panama, Noriega menggunakan kursi roda.
  
Para pengacaranya mengatakan Noriega menderita stroke sepanjang 20 tahun masa penahanannya di luar negeri termasuk menjalani hukuman di Florida atas dakwaan perdagangan narkoba.
  
Berdasarkan hukum yang berlaku di Panama, dalam usianya saat ini dimungkinkan untuk dilakukan tahanan rumah saja. Tapi, kuasa hukumnya belum mengajukan permintaan itu.
  
Seorang pengacaranya mengatakan mereka telah meminta agar Noriega tetap dirawat di rumah sakit karena buruknya perawatan di penjara. "Penyakit hipertensi yang diderita Noriega menunjukkan fakta bahwa lembaga pemasyarakatan tidak memberikan perhatian khusus yang memang diperlukan oleh Noriega," ujar seorang pengacara Noriega, Gisela Vega, kepada wartawan.
  
Kekuasaan Noriega berakhir ketika presiden AS George HW Bush memerintahkan pasukan AS untuk menyerang Panama pada 20 Desember 1989 dengan alasan invasi itu diperlukan untuk menjaga warga negara AS, mengamankan bendungan yang dibangun AS, pertempuran perdagangan obat, dan membela demokrasi.
  
Hubungan antara Panama dan AS yang sebelumnya baik berubah menjadi buruk, setelah Noriega menjalin hubungan dengan pedagang kokain Kolombia.
  
Noriega menjalani tiga hukuman 20 tahun penjara karena penculikan dan pembunuhan tiga lawannya yakni Hugo Spadafora, seorang dokter dan mantan wakil menteri kesehatan pada 1985. Lalu, ia juga terbukti melakukan pembunuhan terhadap Kapten Moises Giroldi pada 1989 dan aktivis buruh Heliodoro Portugal pada 1970.
 
 
 

Penulis: Josephus Primus
Editor : Josephus Primus