Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 19:53 WIB
Kasus
Polisi Malaysia Tahan Kolumnis Arab Saudi
Josephus Primus | Josephus Primus | Jumat, 10 Februari 2012 | 17:11 WIB
|
Share:

STYLELIST
Hasrat untuk media sosial relatif lebih sulit untuk ditolak karena ketersediaannya yang tinggi.
KOMPAS.com - Polisi Malaysia menahan kolumnis Arab Saudi, Hamza Kashgari (23), yang melarikan diri dari negaranya setelah membuat komentar menghina Nabi Muhammad di jejaring sosial, Twitter. "Memang benar polisi Malaysia telah menahan penulis asal Arab Saudi itu. Penahanan ini merupakan bagian dari operasi interpol tempat polisi Malaysia juga bergabung dalam operasi itu," kata seorang juru bicara Kepolisian Malaysia kepada Reuters, Jumat (10/2/2012).
   
Dia tidak merinci lebih lanjut dan enggan berkomentar apakah Hamza Kashgari akan diekstradisi ke Arab Saudi. Sejumlah ulama di Arab Saudi menyerukan agar Hamza Kashgari dihukum mati karena komentarnya itu.
   
Malaysia merupakan negara Muslim yang mempunyai hubungan dekat dengan banyak negara di Timur Tengah karena kesamaan agama yang dianut. Meskipun demikian, negara-negara di Asia Tenggara yang merupakan sekutu Amerika sedang mempopulerkan Islam moderat. Dengan kata lain, keputusan untuk mengekstradisi Kashgari akan menuai kontroversi.
   
Arab Saudi yang menerapkan hukum syariah Islam, menghujat adalah perbuatan kriminal dan pelakunya diancam hukuman mati. Namun, di Malaysia, hal itu bukanlah perbuatan berat.
   
Kashgari dilaporkan "memposting" komentar di akun Twitter miliknya saat Maulud Nabi Muhammad, Sabtu, yang memicu ribuan komentar bernada marah dari pengguna Twitter dan situs jejaring sosial lainnya. 
   
Reuters tidak dapat menverifikasi komentar Kashgari karena dihapus olehnya. Namun dalam laporan, media mengatakan komentar itu mencerminkan pandangan yang bertentangan terhadap Nabi Muhammad.
   
Dalam satu wawancara, Kashgari mengatakan dia dijadikan kambing hitam dari konflik yang lebih besar  atas komentarnya itu. "Saya melihat apa yang saya lakukan adalah sebuah proses menuju kebebasan," ujar Kashgari seperti yang dikutip dari wawancaranya dengan situs Daily Beast.
   
"Saya menuntut hak dasar saya sebagai manusia yakni kebebasan bereksperesi dan berpikir. Jadi apa yang saya lakukan bukanlah hal yang sia-sia," tambah Kashgari.