AFP PHOTO/Ishara S. KODIKARA
Polisi Maladewa berpatroli di jalan-jalan di ibukota Male, selama kerusuhan antipemerintah pada Kamis (9/2/2012). Ribuan pendukung mantan presiden Mohamed Nasheed terlibat bentrokan dengan polisi dan tentara sehari setelah dia meletakkan jabatan dalam sebuah kudeta.
NEW DELHI, KOMPAS.com - Pengunjuk rasa yang marah di sedikitnya empat pulau di seluruh kepulauan Maladewa menyerang sejumlah kantor polisi dan membakar gedung-gedung pemerintah, Rabu (8/2/2012), kata beberapa pejabat.
Abdulla Sodig, Wali Kota Addu, mengatakan satu kantor polisi diserbu dan dua lagi dikepung dalam laporan kerusuhan yang telah menyebar ke luar ibu kota negeri itu, Male, setelah Mohamed Nasheed meletakkan jabatan presiden.
"Satu kantor (polisi) diserbu dan terjadi bentrokan. Polisi dipaksa meninggalkan gedung. Dua lagi (kantor polisi) dikepung oleh pemrotes," kata Sodig melalui telepon dari Addu, pulau karang yang terletak paling selatan di kepulauan Maladewa.
Mohamed Shareef, politikus senior dari partai MDP pimpinan Nasheed di pulau Thinadhoo, mengatakan kepada AFP satu kelompok massa yang terdiri atas sekitar 1.000 orang telah menjarah sebuah kantor polisi dan membakar satu gedung pengadilan serta satu kantor dewan.
"Orang-orang itu merasa tidak alasan bagi pemerintah bekerja di sini. Rakyat mengetahui yang terjadi di Male dan mereka merasa prihatin karena militer turun dan menembaki orang," katanya.
Ia mengatakan, awalnya warga yang marah berkumpul di daerah pelabuhan di Thinadhoo, juga di sebelah selatan ibu kota. Mereka meminta polisi menyerah dengan damai.
Di Pulau Dhidhdhoo, kanselir setempat Yoosuf Siraf mengatakan melalui telepon kepada AFP bahwa sekitar 1.000 orang mengepung sebuah kantor polisi lokal. Personel kepolisian di tempat itu kemudian menyerah.
Ia menyatakan penduduk juga telah mengambil alih satu kantor polisi di Pulau Ihavandhoo. "Yang kami saksikan kemarin, kami takkan mentolerir semua ini ... Rakyat percaya pemerintah yang kini berkuasa tidak konstitusioanl," ia menjelaskan.
Pada Selasa (7/2/2012), Nasheed presiden yang pertama yang terpilih secara demokratis di Maladewa meletakkan jabatan, setelah pemberontakan oleh polisi di ibu kota negeri tersebut.
Nasheed mengatakan, kudeta itu tidak berdarah dan dia dipaksa meletakkan jabatan oleh perwira polisi dan militer yang memberontak serta mengancam akan memicu kerusuhan kalau ia tak meletakkan jabatan presiden. Wakil Presiden Mohamed Waheed --yang berasal dari partai yang berbeda-- diambil sumpahnya sebagai presiden baru beberapa jam kemudian.
Maladewa dikenal sebagai salah satu negara tujuan wisata dunia. Negara itu merupakan kumpulan lebih dari 1.000 pulau yang terleteak di lepas pantai India dan Sri Lanka.

