Kamis, 18 Desember 2014

News / Internasional

Venezuela

Hugo Chavez bak Tak Terbendung

Jumat, 3 Februari 2012 | 17:20 WIB

KOMPAS.com - Betapa membuncahnya dukungan rakyat Venezuela saat Presiden Hugo Chavez dengan strateginya sukses menasionalisasikan perusahaan minyak Exxon Mobil. Bahkan, di Mahkamah Arbitrase, pada pertengahan Januari lalu,

ExxonMobil harus gigit jari lantaran kompensasi dari Venezuela cuma sebesar 908 juta dollar AS. Angka sebesar itu, nyatanya, cuma sepuluh persen dari total investasi ExxonMobil di Venezuela.

Alhasil, popularitas Hugo Chavez pun menanjak. Makanya, masuk akal kalau kelahiran 28 Juli 2012 itu, makin berambisi untuk tetap menjadi orang nomor satu Venezuela. Tak tanggung-tanggung, ia sudah mengatakan ingin berkuasa hingga 2031.

Peruntungan Chavez akan kembali masuk dalam ajang pertaruhan pada pemilu presiden, Oktober 2012. Meski begitu, menurut warta AP dan AFP pada Jumat (3/2/2012), tokoh yang sudah "menghabiskan" tujuh wakil presiden sejak terpilih pada 1998 dan resmi berkantor pada 2 Februari 1999, tak luput dari jegalan politik.

Pada 2002, bos industri Venezuela, Pedro Carmona, misalnya, melancarkan kudeta tak berdarah. Carmona mendapat dukungan penuh dari kelompok poltisi dan pelaku ekonomi.

Sayangnya, upaya Carmona cuma berumur dua hari. Hugo Chavez kembali duduk di tampuk kekuasaan eksekutif. 

Lalu, setahun berikutnya, kendala pun mengadang pendiri Partai Sosialis Bersatu (USP) ini. Melambungnya harga minyak pada Desember 2002 hingga Februari 2003, krisis diplomatik dengan Kolombia, dan krisis perbankan Venezuela adalah sandungan-sandungan untuk Chavez.

Pesaing

Sementara itu, menurut rencana, koalisi partai oposisi akan mengusung seorang calon kandidat pada 12 Februari tahun ini. Koalisi percaya, kandidat yang belum disebutkan namanya itu bisa menjadi pesaing Hugo Chavez.

Sejatinya, sejak 2006, usai terpilih kembali, Hugo Chavez yang baru pulih dari kanker tahun lalu, sudah mempersiapkan diri untuk periode jabatan berikutnya. Pada 2008, partainya, USP, sukses memenangi kursi pemerintahan lokal. Ini menjadi modal kuat bagi Chavez melanggengkan kekuasaannya.

Masih dengan strateginya, Hugo Chavez berhasil mengamandemen konstitusi. Konsekuensinya, ia seakan tak terhadang untuk menjadi kandidat pada pemilihan umum presiden tahap berikutnya.

Lantas, pada pemilu parlemen 2010, lagi-lagi USP menyabet 60 persen kemenangan. Makin solidlah dukungan bagi Hugo Chavez!

Publikasi pun menjadi perhatian Chavez. Pada Kamis (8/1/2012), Chavez kembali melakukan siaran di televisi nasional Venezuela. Acaranya bernama "Hello President". Durasinya, lima jam per tayangan.

Kebetulan, program ini sempat "tiarap" selama enam bulan. Penyebabnya, Chavez sempat berkonsentrasi penuh menyembuhkan diri dari penyakit kanker.

Akhirnya, Chavez sekarang tengah memburu 10 juta suara untuk mengegolkan ambisinya memegang kekuasaan eksekutif tertinggi di Venezuela untuk kali ketiga. Itu syarat mutlak kalau dirinya ingin tetap merengkuh kekuasaan hingga 2031.
   
 

Penulis: Josephus Primus
Editor : Josephus Primus