Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 19:48 WIB
PM Australia Diselamatkan dari Kepungan Demonstran
| Kistyarini | Kamis, 26 Januari 2012 | 17:14 WIB
|
Share:
AFP PM Australia Julia Gillard dievakuasi dari sebuah restoran yang dikepung demonstran pendukung hak-hak suku Aborigin di Canberra, Kamis (26/1/2012).

CANBERRA, KOMPAS.com - Perdana Menteri Australia Julia Gillard dievakuasi oleh sejumlah pengawal setelah dia terjebak di restoran yang dikepung demonstran yang menuntut hak suku asli di Canberra. Insiden itu terjadi usai upacara peringatan Australia Day,  Kamis (26/1/2012).

Sekitar 200 pendukung hak-hak suku Aborigin mengepung dan menggedor jendela restoran tempat Gillard dan pemimpin oposisi Tony Abbott membuka acara pemberian penghargaan.

Press Association melaporkan, sekitar 50 polisi mengevakuasi kedua pemimpin politik itu dari pintu samping restoran menuju ke sebuah mobil. Saat ditarik itulah, Gillard sempat tersandung, bahkan nyaris jatuh, dan salah satu sepatunya terlepas.

Seorang pengawal merangkul dan menggiringnya ke mobil itu dan melindunginya dari massa yang marah. Gillard dan Abbott dievakuasi ke mobil yang sama, sementara para demonstran terus mengejar dan menggedor mobil itu.

Insiden itu dipicu komentar Abbot ketika ditanya soal relevansi Aboriginal Tent Embassy, sebuah bangunan sementara yang dibangun di halaman gedung parlemen federal pada 40 tahun lalu, juga pada 26 Januari.

Pemimpin masyarakat Aborigin, Fred Hooper, yang juga berada di situ mengatakan, unjuk rasa awalnya berlangsung damai sampai Abbott melontarkan pernyataannya. "Pemimpin oposisi di televisi nasional berkomentar akan merobohkan bangunan yang dibangun 40 tahun lalu, bangunan yang sakral bagi kami," kata Hooper.

"Jadi apa yang Anda perkirakan akan kami lakukan bila orang yang berkomentar itu berada hanya 200 meter? Kami harus mengatakan apa, "ya Tony kami akan melakukannya? Kami akan merobohkannya?" ujar Hooper.

Australia Day merupakan hari peringatan kedatangan armada pertam Inggris di Sydney pada 26 Januari 1788. Sebaliknya, suku Aborigin menyebutnya Invasion Day, karena sejak itu benua itu diduduki tanpa perjanjian tertulis dengan pemilik tradisional.

Sumber :
The Telegraph