Jumat, 31 Oktober 2014

News / Internasional

Kim Jong Un Tak Melenceng dari Sang Ayah

Rabu, 18 Januari 2012 | 11:03 WIB

PYONGYANG, KOMPAS.com — Pejabat senior Korea Utara membantah anggapan bahwa pemimpin baru mereka, Kim Jong Un, tidak siap memimpin negara itu sepeninggal Kim Jong Il. Selama bertahun-tahun, katanya, Kim Jong Un mendampingi mendiang ayahnya dan membantu mengambil keputusan-keputusan penting dalam soal militer dan ekonomi.

Anggota Politbiro dan sahabat keluarga Kim, Yang Hyong Sop, mengatakan bahwa Korea Utara berada di tangan yang baik dengan adanya pemimpin baru yang masih muda itu. Dia menegaskan adanya kesinambungan yang terputus dari ayah ke anak yang mengisyaratkan bahwa Kim muda akan melanjutkan kebijakan-kebijakan Kim Jong Un.

Ini merupakan wawancara pertama yang dilakukan oleh seorang pejabat tinggi Korea Utara dengan media asing pascameninggalnya Kim Jong Il pada 17 Desember 2011.

"Kami memang mengalami kehilangan yang sangat besar dalam sejarah bangsa kami karena meninggalnya pemimpin agung Kim Jong Un yang mendadak, tragis, dan tidak diduga," kata Yang, Senin (16/1/2012).

"Namun kami tidak khawatir sedikit pun karena tahu kami dipimpin kamerad Kim Jong Un, yang sepenuhnya siap melanjutkan warisan yang diciptakan sang agung Jenderal Kim Jong Un," lanjutnya.

Usia Kim Jong Un yang masih sangat muda—belum 30 tahun—menimbulkan keraguan asing tentang kepemimpinannya. Kim Jong Il sendiri baru memperkenalkan putra bungsunya itu sebagai putra mahkota pada September 2010. Tak lama setelah diperkenalkan ke publik, Kim muda langsung berpangkat jenderal bintang empat dan menduduki posisi wakil ketua Komite Pusat Militer di Partai Pekerja Korea, partai yang berkuasa di negeri itu.

Menurut Yang, tidak ada kekhawatiran sama sekali soal kepemimpinan Kim Jong Un. "Yang terhormat Kim Jong Un sudah lama mendampingi sang agung Kim Jong Il. Bukan rahasia bahwa selama ini dia membantu Jenderal Besar dalam banyak aspek, tidak hanya dalam urusan militer, tetapi juga ekonomi dan area-area lain," kata Yang.

"Dia tahu persis kehendak Jenderal Besar Kim Jong Il," ungkap Yang.

Pernyataan Yang ini muncul setelah kakak Kim Jong Un, Kim Jong Nam, melontarkan keraguannya soal kemampuan adik tirinya itu. Melalui surat elektronik kepada Yoji Komi, wartawan Jepang, Kim Jong Nam bahkan memprediksi bahwa usia kekuasaan adiknya tidak akan lama karena dia hanya seorang boneka, sementara pemimpin sejati Korea Utara adalah militer.

"Korea Utara sangat labil. Ayah memimpin negeri itu dengan dukungan militer. Namun, kekuasaan militer menjadi terlalu besar. Jika suksesi ini gagal, maka militer akan mengambil alih kekuasaan," kata Kim Jong Nam.

Pernyataan putra sulung yang tersingkir dari kekuasaan itu dituangkan dalam buku karya Komi yang diberi judul My Father Kim Jong Il and Me dan akan diterbitkan pada Jumat (20/1/2012).

Dalam buku yang didasarkan pada wawancara dan percakapan melalui surat elektronik itu, Kim Jong Nam berpendapat bahwa Kim Jon Un hanya diperalat oleh para elite untuk memperkuat cengkeraman terhadap kekuasaan.

"Orang yang berpikir normal tidak akan mungkin mau menerima pewarisan kekuasaan sampai tiga generasi," katanya dalam surat elektronik yang disebut Komi bertanggal 3 Januari 2012.

"Pertanyaan saya, bagaimana ahli waris yang hanya dua tahun belajar bisa mewarisi sebuah kekuasaan absolut," kata lelaki yang diyakini berusia sekitar 40 tahun itu.

Kim tidak lagi tinggal di Korea Utara setelah hubungannya dengan sang ayah memburuk karena dia berusaha masuk Jepang dengan paspor palsu pada 2001. Bulan lalu, kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan, putra sulung Kim Jong Il itu tiba di Beijing dari Makau menjelang pemakaman ayahnya yang dilangsungkan di Pyongyang pada 28 Desember 2011. Tidak jelas apakah Kim Jong Nam menghadirinya.

 

 


Editor : Kistyarini
Sumber: