Jumat, 19 Desember 2014

News / Internasional

Langka

Bea Cukai Thailand Gagalkan Penyelundupan Kulit Harimau

Jumat, 6 Januari 2012 | 18:30 WIB
KOMPAS.com - Para petugas bea cukai Thailand, Jumat (6/1/2012) mengatakan telah menyita empat kotak kulit dan tulang harimau senilai puluhan ribu dollar AS yang diselundupkan di pos pemeriksaan mereka. Polisi yakin barang sitaan itu tadinya hendak dijadikan dekorasi interior.
   
Harimau-harimau, yang bagian-bagiannya ditemukan pada awal pekan ini, dianggap berasal dari Indonesia dengan tujuan akhir ke China, kata Somchai Poolsawasdi, Direktur jenderal Bea Cukai Kerajaan  Thailand. "Ada empat kotak, dan setiap kotak berisi satu lembar kulit harimau, tulang-tulang dan tengkoraknya. Masing-masing beratnya sekitar lima kilogram (11 pon)," katanya kepada AFP.
   
Dia mengatakan paket-paket itu, diperkirakan akan dikirim satu geng perdagangan, dengan rute ke Mae Sai di utara Thailand, dan datang melalui kantor pos utama Bangkok, tempat para pejabat menerima informasi mengenai selundupan itu. "Cara mereka memproses harimau ini, saya pikir mereka itu dimaksudkan untuk furniture atau hiasan," tambahnya.
   
Kelompok anti-perdagangan gelap  Freeland mengatakan, bagian-bagian tubuh harimau itu bernilai sekitar 60.000 dollar AS. Kelompok itu memperingatkan bahwa perburuan serta perdagangan daging harimau, tulang-belulang dan kulitnya adalah penyebab utama penurunan populasi harimau liar di Asia. "Penyitaan kulit  dan tulang-belulang harimau ini adalah terpuji dan jelas menyakiti para melukai penjahat itu secara finansial," kata Tim Redford dari Freeland.
   
"Namun, dengan sedikit harimau yang tersisa di alam liar, menghentikan penyelundupan seperti ini adalah sangat penting," tambahnya.
   
Thailand adalah salah satu dari hanya 13 negara yang memiliki populasi harimau yang rapuh, dan menjadi  pusat penyelundupan internasional.
   
Di seluruh dunia, jumlah binatang yang sering disebut Si Raja Hutan ini diperkirakan telah merosot hingga 3.200 ekor dari sekitar 100.000 ekor pada seabad lalu.

Penulis: Josephus Primus
Editor : Josephus Primus