Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Internasional

Bisakah Iran Menutup Selat Hormuz?

Kamis, 5 Januari 2012 | 07:31 WIB

SUDAH hampir dua pekan ketegangan situasi melanda kawasan Teluk akibat aksi saling mengancam antara AS dan Iran. AS dan Iran terakhir ini saling mempertontonkan otot kekuatan militernya di sekitar jalur vital Selat Hormuz.

Ketegangan itu dipicu oleh usulan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy pada Desember lalu untuk menambah sanksi terhadap Iran, yaitu pertama, pembekuan aset-aset bank sentral Iran, dan kedua, mengembargo ekspor minyak Iran.

Negeri para Mullah itu sesungguhnya sudah terbiasa dengan berbagai sanksi Barat, sejak meletusnya revolusi Iran tahun 1979. Namun, berbagai sanksi Barat itu belum menyentuh pada inti urusan perut rakyat Iran, yaitu ekspor minyak yang merupakan hampir 90 persen dari pendapatan nasional Iran.

Itulah yang membuat Iran segera naik pitam dengan mengancam menutup Selat Hormuz jika Barat berani menjatuhkan sanksi embargo ekspor minyak Iran. Bagi Iran, masalah ekspor minyak dan gas adalah garis merah karena menyangkut inti kehidupan rakyat negeri itu.

Kini, apakah Iran mampu menutup Selat Hormuz jika seandainya Barat berani berspekulasi menjatuhkan sanksi embargo ekspor minyak Iran?

Analis politik Iran, Hussein Shariatamadari, mengklaim Iran memiliki hak secara hukum menutup Selat Hormuz, baik sementara maupun permanen berdasarkan kesepakatan Geneva tahun 1958 dan kesepakatan Jamaika tahun 1982.

Dua kesepakatan tersebut memberi hak kepada negara-negara yang bertepi ke Selat Hormuz menutup selat itu secara permanen dan sementara jika kedaulatannya terancam oleh kapal dagang atau militer yang melewati selat tersebut.

Menurut dia, jika negara-negara Barat menjatuhkan sanksi blokade ekspor minyak Iran, maka Teheran akan menganggap semua kapal tanker di Selat Hormuz yang mengangkut minyak untuk negara-negara yang memboikot minyak Iran adalah mengancam keamanan nasional negeri Iran. Dalam hal itu, kata Shariatamadari, Iran berhak menutup Selat Hormuz.

Secara militer pun, Iran tampak percaya diri mampu menutup Selat Hormuz. Wakil Presiden Iran Mohamed Reza Rahimi pada akhir Desember lalu menegaskan, jika sanksi dijatuhkan terhadap ekspor minyak Iran, maka tak ada setetes pun minyak yang akan melewati Selat Hormuz.

Menurut analis militer Barat, seperti dikutip harian The New York Times edisi 29 Desember lalu, Iran tidak memiliki kemampuan militer untuk menutup total Selat Hormuz. Analis tersebut mengatakan, mesin militer AS dan Barat dengan mudah menekuk upaya militer Iran menutup selat vital tersebut.

Namun, menurut para analis itu, Iran mampu mengganggu atau menghambat jalur lalu lintas di Selat Hormuz.

Para analis memprediksi Iran akan memilih menyebarkan ribuan ranjau laut di sekitar Selat Hormuz untuk mengganggu jalur lalu lintas di selat vital itu.

Harian The New York Times, mengutip para analis itu, menyatakan, aksi gangguan Iran tersebut sudah cukup menggoyang perekonomian dunia yang kini sudah terjangkit krisis ekonomi.

Harian terkemuka AS itu menggambarkan berapa kerugian yang akan dipikul perekonomian dunia jika kapal tanker minyak yang akan melewati Selat Hormuz harus menunggu beberapa hari untuk bisa melintasi selat tersebut karena harus menunggu kepastian selat itu bebas ranjau. Padahal, dalam keadaan normal, tulis harian tersebut, berapa puluh kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.

Harian itu menyebutkan, mesin militer AS tidak mudah menghentikan aksi penyebaran ranjau laut karena bukan berbentuk perang konvensional, melainkan lebih berupa perang gerilya.

Seperti diketahui, Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur perairan delapan negara di kawasan Teluk Persia atau Arab. Delapan negara itu adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kesultanan Oman, Kuwait, Irak, dan Iran. Hampir setiap 10 menit satu kapal tanker melewati selat tersebut. Sekitar 40 persen impor minyak dunia melewati selat itu, dan sekitar 90 persen ekspor minyak negara-negara Arab teluk, Irak, dan Iran melalui jalur Selat Hormuz. Menurut kajian sebuah lembaga energi di AS, diprediksi volume ekspor minyak yang melalui Selat Hormuz bisa mencapai 35 juta barrel setiap hari pada tahun 2020. (Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: