Sabtu, 2 Agustus 2014

News / Internasional

Blokade Selat Hormuz Akan Rusak Ekonomi Dunia

Kamis, 29 Desember 2011 | 08:51 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com - Blokade Selat Hormuz, jika jadi diwujudkan Iran, berpotensi merusak perekonomian dunia di tengah kondisi krisis finansial Eropa yang belum tuntas. Bahkan, pasar langsung bereaksi negatif begitu Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Rahimi melontarkan ancaman blokade Selat Hormuz, Selasa (27/12).

Harga minyak langsung naik hingga lebih dari 1 dollar AS per barrel di bursa New York dan London. Minyak mentah light sweet crude untuk kontrak pengiriman bulan Februari di bursa New York Mercantile Exchange ditutup pada harga 101,34 dollar AS per barrel, Selasa, atau naik 1,66 dollar AS dari harga penutupan Jumat pekan lalu.

Di London, minyak mentah Brent naik menjadi 109,27 dollar AS per barrel, atau naik 1,31 dollar AS dari pekan lalu.

Konsultan energi The Schork Group memperkirakan, harga minyak dunia bisa melonjak hingga di atas 140 dollar AS per barrel apabila Iran benar-benar menutup Selat Hormuz.

”Kami meragukan manuver politik ini akan diwujudkan. Meski demikian, harga minyak akan tetap berada di atas 100 (dollar AS per barrel),” ungkap laporan The Schork Group.

Carl Larry, Presiden Oil Outlook di New York, AS, mengatakan, lonjakan harga minyak yang terjadi jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz akan merusak perekonomian global. ”(Selat) itu adalah jalur ekonomi utama. Jika ditutup akan terjadi dampak besar bagi ekonomi negara-negara Timur Tengah. Yang kedua, Arab Saudi sendiri tak punya cadangan minyak yang cukup untuk mengganti kekurangan suplai minyak dari Iran (jika Iran diembargo),” ujar Larry.

Beberapa pekan lalu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengusulkan sanksi embargo minyak terhadap Iran untuk memaksa negara itu meninggalkan program nuklirnya. Namun, rencana ini ditentang banyak pihak, termasuk dari dalam Uni Eropa.

Ancaman terbuka

Iran selama ini berusaha tidak terang-terangan menyatakan ancamannya untuk menutup salah satu jalur pasokan minyak tersibuk di dunia ini. Namun, pernyataan Rahimi merupakan ancaman terbuka.

”Jika sanksi dijatuhkan terhadap ekspor minyak Iran, tak ada setetes pun minyak yang akan melewati Selat Hormuz,” kata Rahimi seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.

Ancaman itu diperkuat Kepala Staf Angkatan Laut Iran Laksaman Muda Habibollah Sayyari, Rabu (28/12), dengan mengatakan, sangat mudah bagi militer Iran menutup Selat Hormuz. ”Menutup selat itu bagi Angkatan Bersenjata Iran sangat mudah, lebih mudah daripada minum segelas air,” tuturnya.

Sayyari mengatakan, AL Iran dibentuk dengan tujuan mampu menutup Selat Hormuz sewaktu-waktu dibutuhkan. Meski demikian, lanjut dia, penutupan Selat Hormuz belum dipandang perlu oleh Iran.

”Hari ini kami tidak perlu menutup selat itu karena kami masih bisa mengendalikan Laut Oman serta lalu lintas kapal-kapal di laut tersebut,” ungkap Sayyari yang ingin menegaskan bahwa Iran menguasai sepenuhnya Selat Hormuz.

Iran memang menguasai hampir seluruh titik strategis di sekitar satu-satunya pintu keluar dari Teluk Persia itu. Kapal-kapal tanker pembawa minyak mentah dari negara-negara produsen minyak di Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Iran sendiri, harus melewati selat sempit itu untuk menuju lautan lepas.

AS sendiri menganggap enteng ancaman Iran ini. Jubir Departemen Luar Negeri AS Mark Toner menganggap pernyataan Rahimi itu sekadar gertakan. ”Menurut saya, itu hanya sekadar upaya mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya, yakni pelanggaran terhadap kewajiban internasional mereka terkait nuklir, yang dilakukan terus-menerus,” ujar Toner.

AS menempatkan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, negara pulau di Teluk Persia, dengan salah satu misi utama menjaga agar jalur Selat Hormuz tetap terbuka dan aman. (AFP/AP/Reuters/DHF)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: