BAGHDAD, JUMAT -
Sektor perminyakan Irak timpang setelah beberapa tahun terkena sanksi serta konflik setelah invasi AS tahun 2003. Sektor ini memerlukan investasi. Namun, mendatangkan perusahaan minyak besar juga menyebabkan negara tereksploitasi.
”Saya yakin dunia memerlukan minyak Irak sehingga saya memutuskan untuk menawarkan kontrak walau ada ancaman dari luar dan dalam Irak,” ujar Shahristani, Wakil Perdana Menteri Irak untuk Urusan Energi di Bagdad, Kamis (15/12).
Dengan mengabaikan rasa skeptis, kritik dari publik, dan ancaman dari lawan politik, Shahristani berhasil melaksanakan pilihan dan menegosiasikan beberapa kontrak minyak. Kontrak ini diyakininya akan mendorong pembangunan ekonomi dan bisa menjadi pesaing bagi Arab Saudi dalam ekspor minyak.
Sembilan tahun setelah invasi, sebagian dari harapan Shahristani terpenuhi. Beberapa perusahaan minyak raksasa sepakat membantu Irak membangun negara yang memiliki cadangan minyak terbesar keempat di dunia itu. Perlahan, Irak menambah produksi. Negara itu juga mengalami banyak kendala dan memerlukan investasi pada setiap sektor ekonominya.
Para investor di Irak masih terganjal masalah keamanan, hukum lama, dan birokrasi. Infrastruktur berantakan dan ini diperburuk lagi dengan perpecahan sektarian dan pertentangan politik. Walaupun angka kejahatan menurun dari puncaknya tahun 2006-2007, pengeboman terjadi sepanjang hari. Penyerangan dan pembunuhan masih merupakan hambatan terbesar investasi.
Karena hambatan-hambatan tersebut, Irak terpaksa mengurangi ambisi soal produksi minyak. Pejabat Irak sudah memulai pembicaraan mengenai produksi sebesar 8 juta barrel per hari. Angka ini merupakan target harian dalam jangka panjang, turun dari target sebelumnya yang sebesar 12 juta barrel per hari.
Perusahaan minyak internasional yang bekerja di Irak harus berjuang melawan banyak tantangan, mulai dari tantangan keamanan hingga hambatan logistik dan birokrasi.
Ada gejala menuju perbaikan. Sistem finansial Irak secara perlahan mengarah ke pasar bebas setelah bertahun-tahun mengalami kontrol ketat di bawah pemerintahan Saddam. Pasar modal Irak sudah mulai menarik dana asing. Sektor telekomunikasi dan perbankan juga berkembang dengan cepat.
Akan tetapi, sayangnya, ketersediaan energi nasional hanya mampu memasok aliran listrik selama beberapa jam saja dalam sehari. ”Apakah ini yang disebut perkembangan ekonomi cepat? Tidak, ini merupakan pembangunan yang sangat lambat, tetapi berkembang,” ujar Fadhil Nabi, Wakil Menteri Keuangan.
Shahristani mendapat kritik dari parlemen karena tidak meningkatkan output lebih cepat. Walaupun kesepakatannya dengan perusahaan asing secara teroretis dapat melipatkan produksi menjadi 12 juta barrel per hari, banyak analis berpendapat produksi sebesar 7 juta barrel per hari adalah yang paling realistis.

