Jumat, 25 Juli 2014

News / Internasional

Rusia Marah Atas Perisai Rudal, NATO Pun Bertemu

Selasa, 6 Desember 2011 | 13:06 WIB

BRUSSELS, KOMPAS.com - NATO akan berusaha meyakinkan Moskwa pekan ini bahwa perisai rudal mereka di Eropa tidak ditujukan kepada Rusia. Upaya itu dilakukan setelah Kremlin mengancam untuk menyebarkan sistem senjata di dekat perbatasan Uni Eropa.

Menlu Amerika Serikat, Hillary Clinton, akan bergabung dengan 27 rekan NATO-nya untuk pembicaraan hal itu pada Rabu (7/12/2011), yang juga akan menyentuh mengenai transisi keamanan di Afganistan, hubungan-hubungan dengan dunia Arab dan ketegangan-ketegangan di Kosovo. Mereka kemudian akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Kamis untuk memberitahu dia bahwa perisai rudal akan dilanjutkan, tetapi NATO masih ingin merundingkan kesepakatan kerja sama dengan Moskwa, kata para diplomat aliansi.

"Daripada menjadi ancaman bagi NATO dalam menanggapi penyebaran pertahanan rudal NATO, akan lebih baik jika NATO dan Rusia  bekerja sama dalam berurusan dengan ancaman yang kami hadapi bersama," kata seorang pejabat senior NATO.

Seorang diplomat mengatakan, NATO ingin "menenangkan situasi" setelah Rusia yang mengaktifkan radar sistem peringatan terhadap rudal-rudal yang masuk dalam wilayahnya di Kaliningrad di perbatasan Uni Eropa pekan lalu. Beberapa hari sebelumnya Presiden Dmitry Medvedev mengancam akan menyebarkan rudal di Kaliningrad tetapi ia masih memberikan kesempatan untuk  melanjutkan dialog sistem pertahanan NATO setahun  setelah dia setuju untuk menjajaki cara  bekerja sama.

"Kami telah jelas dan saya asumsikan kami akan jelas di tingkat menteri bahwa pertahanan rudal NATO  akan terus berlangsung, dan bahwa perisai rudal itu tidak diarahkan kepada pertahanan Rusia," kata pejabat senior NATO.

Para pejabat Barat berkeras bahwa perisai rudal itu ditargetkan terhadap ancaman yang berkembang dari Timur Tengah, khususnya Iran. NATO telah berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia dalam beberapa tahun terakhir, dan Moskwa telah memperbolehkan persekutuan itu menggunakan wilayahnya dalam mengirim pasokan penting bagi  pasukan di Afganistan.

Jalur transit melalui Rusia telah menjadi semakin penting karena Pakistan menutup jalur pasokan setelah marah atas serangan udara NATO di perbatasan  Afganistan yang menewaskan 24 tentara Pakistan bulan lalu. Hubungan tidak nyaman dengan Pakistan tidak akan menjadi agenda dalam pertemuan para menteri luar negeri NATO. Namun para menteri akan membahas transfer kendali keamanan kepada pasukan Afganistan pada konferensi besar tentang Afganistan pada Senin di Bonn. Di sana, para peserta berikrar memberikan dukungan berkelanjutan selama satu dekade lagi setelah pasukan tempur meninggalkan negara itu pada tahun 2014.

Satu misi pemelihara perdamaian yang lebih dekat ke wilayah NATO, yaitu Kosovo, akan dibahas berkaitan munculnya kekerasan di perbatasan dengan Serbia yang melukai 50 tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu. Persekutuan  ini ingin Serbia tinggal di Kosovo utara untuk menghapus barikade yang telah memicu ketegangan dengan otoritas etnis Albania di Pristina, tiga tahun setelah warga Kosovo menyatakan kemerdekaan. Dan setelah berakhirnya perang udara NATO di Libya pada 31 Oktober, di mana Qatar, Uni Emirat Arab dan Yordania memainkan peran kunci, persekutuan itu ingin  melihat bagaimana Arab Spring itu "dapat memberikan peluang baru bagi keterlibatan dengan negara-negara di Timur Tengah dan Afrika utara," kata pejabat senior itu.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: