Jumat, 28 November 2014

News / Internasional

Industri Senjata

Pesawat C-17 dan Rudal THAAD Dipasangi Onderdil Palsu

Rabu, 9 November 2011 | 16:19 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Beberapa alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi Amerika Serikat ternyata kemasukan berbagai suku cadang palsu yang sebagian besar berasal dari China. Di antara alutsista AS yang ketahuan dipasangi suku cadang palsu itu antara lain pesawat angkut militer C-17 Globemaster III, helikopter CH-46 Sea Knight, dan sistem pertahanan antirudal THAAD.

Demikian hasil penyelidikan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS yang dipaparkan dalam sidang komite tersebut di Washington DC, Selasa (8/11/2011).

Pesawat C-17 selama ini menjadi kuda beban andalan Angkatan Udara AS. Sementara helikopter berbaling-baling ganda CH-46 digunakan sebagai pengangkut pasukan di Korps Marinir AS dan sistem pertahanan THAAD (terminal high altitude area defense) digunakan oleh Angkatan Darat AS untuk mencegat rudal-rudal menengah sejenis Scud.

Para senator AS khawatir, terpasangnya berbagai onderdil palsu di sistem persenjataan utama itu bisa membahayakan keselamatan prajurit AS di medan tempur dan membahayakan keselamatan AS sendiri.

"Kami tak bisa menoleransi risiko adanya pencegat rudal yang gagal mengenai sasaran atau seorang pilot helikopter tidak bisa menembakkan senjatanya atau kegagalan operasi lain hanya karena adanya suku cadang palsu ini," kata Senator John McCain, satu dari dua senator yang pertama kali mengungkapkan kebocoran jalur pasokan suku cadang terhadap industri senjata AS tersebut.

Senator Carl Levin, yang menjabat ketua komite tersebut, mengatakan, tim penyelidik komite telah menemukan sedikitnya 1.800 kasus yang melibatkan sekitar 1 juta komponen elektronik palsu sejak 2009. Itu semua, kata Levin, baru puncak dari sebuah gunung es permasalahan serius ini.

"Kegagalan satu komponen elektronik bisa menempatkan seorang prajurit, pelaut, penerbang, atau Marinir kami terancam bahaya dalam kondisi yang paling buruk. Membanjirnya komponen elektronik palsu ini makin membuat kami sulit meyakini bahwa suatu saat (kegagalan) itu akan terjadi," tutur Levin.

Dicuci di sungai

Beberapa kontraktor utama sektor pertahanan AS, seperti produsen pesawat Boeing, produsen radar dan rudal Raytheon, dan produsen alat komunikasi dan modul komando L-3 Communications, tak luput dari pasokan onderdil palsu ini. Dari hasil pelacakan para penyelidik, 70 persen komponen palsu—yang sebagian besar adalah komponen elektronik—tersebut berasal dari China serta 20 persen lainnya dari Inggris dan Kanada. Mereka juga menemukan barang-barang yang berasal dari Hongkong, kemudian dikirim menggunakan truk-truk ke beberapa kota di China daratan, termasuk kota yang dikenal sebagai pusat pembuatan barang palsu, Shantou, di Provinsi Guangdong.

Menurut Richard Sharpe, wakil presiden perusahaan distributor komponen elektronik independen SMT Corp, pemalsuan itu dilakukan dengan membersihkan berbagai jenis komponen elektronik bekas yang dilepas dari alat-alat elektronik di pasaran. Komponen-komponen bekas itu kemudian dibersihkan dengan mencucinya di sungai atau membiarkan tersiram air hujan.

Setelah dicuci, komponen bekas itu lalu dikeringkan dengan cara dijemur di pinggir sungai dan dimasukkan ke ember. Komponen itu kemudian diproses kembali menjadi seperti baru, lengkap dengan kardus kemasan mirip aslinya.

"Pemalsuan yang dilakukan di Shantou tidak dipandang sebagai pelanggaran hak atas kekayaan intelektual atau sesuatu yang tidak pantas. Kegiatan itu justru dipandang sebagai 'inisiatif ramah lingkungan' untuk memanfaatkan kembali material komponen elektronik yang sudah dibuang," tutur Sharpe.

Letnan Jenderal Patrick J O'Reilly, Direktur Badan Pertahanan Rudal AD AS, mengatakan, pihaknya dirugikan hingga 4 juta dollar AS untuk mengganti komponen-komponen palsu ini dari tujuh kasus penemuan komponen palsu pada sistem pencegat rudal THAAD-nya.

"Kami tak ingin keandalan sistem THAAD seharga 12 juta dollar AS itu rusak hanya karena dua komponen (palsu)," tutur O'Reilly.


Penulis: Dahono Fitrianto
Editor : Marcus Suprihadi
Sumber: